Wednesday, July 9, 2014

Ada apa di balik "cie"?

Dibalik kata "cie"
Ada kecemburuan.
Dibalik kata "Gak pa pa"
Ada masalah..
Dibalik kata "terserah''
Ada keinginan...
Dibalik kata "Ya udah"
Ada kekecewaan....
Katanya  sih begitu. Masa sih?JAdi gini, ada yang cie-in orang"Cieee, berduaan terus!"Vonisnya adalah si orang yang cie-n itu seolah lagi ngegodain, tapi dalam hatinya berkata "Sialan, padahal gue udah ngincer tuh cewek, eh dia yang dapet!"Ini bisa berlaku untuk cewek atau cowok ya,  tapi karena eike cowok tulen, jadi pake contohnya cowok.Kembali lagi,jadi divonis begitu rupa gitu lho. Mungkin kejadiannya begini. Cowok ngincer cewek terus ceweknya biasa aja, tapi ternayta ceweknya deket sama cowok lain dan responnya lebih baik dari respon ke cowok pertama itu. Nah cowok itu curhat sama temennya, temennya heran, bukannya cie-in kemaren? Ah itu mah buat nutupin keselnya gue aja, kata cowok itu.Mungkin kejadiannya begitu kali ya? Mungkiiiiin...Malah nih ya, ada yang lebih dalem lagi, komiknya udah beredar di dunia maya. 



 
Kira-kira begitu gambar ag beredar di dunia maya. Gambar itu seolah-olah menjadi sebuah paham yang baru, sebuah kiblat dan pembenaran dari si "cie" itu.Mungkin memang tidak salah, siapa yang nggak emosi kalo ngeliat gebetan dideketin orang lain. siapa yang nggak emosi ketika sadar dirinya nggak berdaya buat deketin gebetan.Tapi gimana kao mindsetnya kita ganti?Alih-alih "Ada cemburu dibalik cie," menjadi "Ada doa dibalik cie,"Gimana kalo gitu? Jadi kalo ada yang cie-in gitu "Cieee yang lagi nungguin bbm," jangan dijawab dengan "Ada sirik dibalik cie, ada cemburu cie," tapi dijawabnya "Iya nih lagi harap-harap cemas, hehehehe," udah gitu aja. Jadi kalo ada yang cie-in kita, kita anggap aja itu sebagai sebuah doa. "Cieee korban ldr yang lagi nungguin kabar,"Itu artinya,"Ya Tuhan sabarkan kawanku ini dalam menunggu kabar, dan jagalah kawanku yang satunya lagi yang sdang ditunggu kabarnya,"  kalo ada yang lagi pacaran di tl "Cieee pacaran di tl, muas-muasin soalnya kan kemaren backstreet" Itu artinya."Ya Tuhan, tolong jaga mereka tetap dekat dan mudahkan menuju ridho-Mu, mudahkan menuju pelaminan, dan bimbing mereka di jalan menuju keluarga yang Kau ridhoi,"Dan ribuan bahkan jutaan doa-doa yang lain! Gimana kalo mindsetnya kita ubah begitu? Karena Setiap doa tentang kebaikan yang kita panjatkan untuk saudara kita, akan berbalik lagi kepada kita.Tapi kembali lagi, tergantung kitanya juga, mau cie itu diangap ah sudahlah toh cuma main-main, atau mau dianggap serius, bebas! Pada akhirnya kembali lagi bahwa semua yang dipaparkan diatas hanya pendapat saja, pendapat dari seorang pemuda tampan yang sok tau.
peacecem

Friday, March 21, 2014

2014



Sebelumnya ingin mengingatkan bahwa saya adalah seorang pemuda tampan dan sok tau, jadi nggak usah serius banget. Mari kita bicara sesuatu. Mari kita bicara sedikit serius, sedikit aja, jangan banyak-banyak, nanti tumpah.

April adalah bulan pemilu, tanggal 9 kita akan melaksanakan pemilu. artinya memilih wakil rakyat, dan pemilu juga berfungsi untuk memilih presiden. Padahal, kenapa harus memilih ya? Kan kata Iwan Fals, lelaki itu bukan untuk dipilih. Mungkin mereka bukan fans Iwan Fals, mungkin juga mereka akan bertanya diapa dia. Yang saya sukai dari pemilu tahun ini adalah pemilu akan dilaksanakan pada tanggal 9 April, dan yang disukai dari tanggal 9april adalah hari rabu, yang artinya ketika pemilu ini dilaksanakan maka kita akan libur! *kali libur

Cuma bukan itu yang mau dibicarakan, tapi mau nanya nanti mau pilih siapa?
Ini jadi menarik karena capres yang maju adalah seseorang yang masih menjabat sebagai Gubernur, siapa lagi kalo bukan Jokowi? Sementara sisanya adalah capres yang melakukan pencitraan melalui iklan sejak bertahun-tahun yang lalu, yang mungkin tetap tidak berhasil, karena track record mereka yang tidak terlalu baik
 2014 dipenuhi oleh pengkhianat bangsa. salah satu capres adalah seorang jenderal yang perjalanannya diwarnai kasus kelam berkaitan dengan HAM. Yang satu lagi juga orang lama, yang satu lagi ikutan jadi capres adalah seorang mentri yang sedang menjabat, lalu ada lagi pengusaha yang memusnahkan satu desa (atau kota?) dia ini macam Majin Buu aja yang ada di Dragon Ball. Dan satunya tentunya sang gubernur.

Kenapa saya bilang 2014 dipenuhi oleh pengkhianat bangsa? Karena menurut pendapat saya, pejabat yang masih dalam masa tugas lalu mencalonkan diri jadi presiden adalah pengkhianat, karena untuk kampanye mereka mengajukan cuti, artinya mereka nggak ngurusin rakyat. Jadi, apa pantas mereka dipilih?

Bagaimana saya bisa percaya mereka akan ngurusin rakyat kalo mereka memilih cuti untuk jadi jurkam atau capres? Bagaimana bisa percaya orang bisa ngurus negara sementara ngurus perusahaannya saja nggak bisa?
Bagaimana saya bisa percaya kepada orang yang hanya minta maaf terhadap apa yang dilakukan anak buahnya di masa lalu?
Saya pun tidak respek dengan pemerintahan sekarang, tapi bagaimana saya bisa percaya berita di media, ketika pemilik medianya ikutan mencalonkan diri sebagai preiden?

Jokowi adalah seorang Gubernur, Gubernur membuat kebijakan, dia ngurusin semua warga, sementara partai ngurusin dirinya sendiri. Tapi ketua partai seenaknya nyuruh seorang gubernur mencalonan diri jadi presiden. ini kan aneh, pemimpin provinsi, pembuat kebijakan kok bisa disuruh-suruh sama partai? Ini yang pemerintah siapa? Pantas aja kalo negara nggak maju, sistemnya aja model begini. Terus gimana saya bisa percaya sama dia?

Dan sontak media ramai membicarakan soal ini, media sosial riuh dengan berbgai peperangan antata pendukung dan pembenci, beragam teori konspirasi bermunculan. Saya pun tidak lagi respect kepda belau, bukan karena dia boneka atau gila jabatan, tapi pengkhianat bangsa.

Lalu bermunculan pernyataan bahkan petisi ajakan golput. Apakah saya akan golput? Tidak! Kenapa? Karena kalo saya nggak nyoblos, berarti ada satu surat suara nganggur dan bisa digunakan untuk kepentingan kandidat tertentu, enak aja, mending saya rusak aja surat suaranya biar nggak sah.
Tapi saya akan memilih, pilih siapa? Ini sulit, ini adalah masalah memilih yang terbaik dari yang buruk, pilihan sulit. Saya akan memilih sang gubernur, sulit memang, seperti menjilat ludah sendiri, tapi dibanding harus memilih orang orde baru atau pengusaha demolition man, saya pilih gubernur. kecuali kalo hasil konvensi memunculkan nama yang sesuai harapan.

Bagaimana dengan caleg lain? Sederhana, nggak ada yang kenal, jadi kemungkinannya ada 2, pilih artis, karena nggak semua artis nggak bisa kerj, tapi bukan berarti saya akan memilih model majalah dewasa juga, apalagi pemilik tas puluhan juta. Atau rusak lagi surat suaranya

Semua keriuhan ini saya tidak pahami. Karena sebenarnya seserhana, kendali ada di tangan kita. Kalo nggak suka nonton yks tinggal ganti channel, selesai urusan. Nggak suka sama capres tertentu, ya jangan dipilih. Simple kan? Pemberitaan berlebihan, hanya akan menaikkan publisitas secara gratis, walaupun tidak menaikkan elektabilitas juga *asik

Tapiiiii, ini hanya opini, tulisan (ketikan di atas) masih berantakan. Pencerahan akan selalu dicari.
Semakin berkembang jaman, manusia semakin cerdas, harusnya sih…

Saturday, January 4, 2014

Miskin Tapi Sombong

Demi Tuhan, karena latar belakang kehidupan yang kurang menyenangkan saya pernah mengucapkan kalimat sakti yang menjadi kenyataan saat ini.

Demi Tuhan, ketika kalimat itu keluar, yang ada hanyalah dua niat.
Pertama, adalah untuk bercanda.
Kedua, adalah untuk mempertahankan diri.

Saya lupa gimana awalnya, siapa saja yang sedang bicara, dan membicarakan tentang apa. Tapi yang saya ingat adalah saya berada dalam sebuah situasi canda yang menykitkan. Dimana canda itu memiliki aura bully yang teramat kuat. Sampai akhirnya saya mengeluarkan pernyataan. "Eh, sori, biar miskin tapi gue sombong!"

Entah apa yang terjadi sampai keluar pernyataan begitu. Saya hanya ingat bahwa saya mengeluarkan kalimat tersebut, saya tidak ingat dan tidak ingin ingat situasinya. Soalnya udah lama banget, lupa cyin.

Tapi sekarang gini, saya tidak menyangka bahwa kalimat tersebut malah menjadi sebuah pemandangan yang jamak dilihat. Dan memang demikian, orang miskin itu sombong.

Mentang-mentang miskin, mereka seenaknya melanggar aturan.
Misalkan, berjualan di tempat yang tidak seharusnya tidak boleh jualan. Dan ketika ditertibkan, mereka ramai-ramai melawan. Ketika sudah tidak berdaya, mereka bilang "Tolonglah, saya orang miskin,"
Sombong.
Atau. Melanggar aturan lalu lintas, menerobos lampu merah dengan alasan mengejar waktu, karena mereka miskin jadi harus kerja lebih keras dan karena mereka miskin jadi harus menerobos lampu merah untuk bisa tetap bekerja di tempatnya. Ketika ditilang, mereka bilang "Tolonglah, saya orang miskin,"
Atau. Yang banyak diberitakan, penggusuran. Karena mereka miskin, mereka merasa berhak untuk menmpati lahan yang bukan miliknya untuk dijadikan tempat tinggal. Ketika digusur, merek tidak terima malah minta ganti rugi. Ketika digusur paksa mereka bilang "Tolonglah, saya orang miskin,"

Dan banyak lagi contoh lain.
Kaya atau miskin itu bukan masalah takdir, tapi masalah mental. Karena ketika mereka diberi motivasi, nasihat, doktrin, atau apapun itu namanya. Mereka akan bilang "Dia sih enak ngomong, nggak pernah ngerasain miskin kayak saya,"
Sombong kan?

Masalah mental ini disebabkan oleh dua hal.
1. Dari merekanya sendiri. Mereka miskin karena malas, karena terbiasa meminta, karena pengen enaknya saja, karena nafsunya.
2. Karena pemerintah membiarkan mereka miskin. Baik itu luput karena sibuk mengurusi masalah negara lain, atau memang mereka dipelihara dan dipertahankan supaya tetap miskin agar bisa digunakan sebagai alat pencitraan atau alat untuk menggulingkan dan merebut kekuasaan. Nah ini berkaitan dengan poin satu.

Kesombongan karena kemiskinan memberikan pemandangan yang menakutkan, saya berubah pandangan sekarang. Saya nggak mau sombong, apalagi miskin, udah gitu sombong pula.

Namanya juga orang sok asik


Tuesday, December 31, 2013

Tentang CINEUS



And… action!


Judul Buku              : CINEUS
Penulis                      : Evi Sri Rezeki
ISBN                          : 978-60-7816-56-5
Penerbit                    : teen@noura
Editor                         : Dellafirayama
Harga                         : Rp. 48.500
Tebal                                     : 304 halaman


Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form
Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya bersama Dania dan Dion itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho … tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat tonton, eh, baca! :)





Yak! Saya sudah selesai membaca buku ini!

Membaca buku ini sebenarnya diawali rasa penasaran. Karena buku ini menceritakan tentang, salah satunya, perjuangan mempertahankan sebuah organisasi di sekolah yang ironisnya tidak mendapatkan dukungan. Dan saya pun pernah mengalami hal itu, memperjuangkan sebuah organisasi, walaupun tidak sedramatis ini. Inilah yang membuat saya bertahan membaca halaman demi halaman satu persatu. Sebenarnya ada kawan yang menyarankan untuk membakar buku tersebut dan menyeduhnya bersama teh manis lalu diminum, katanya biar cepet menyerap. Tapi saya menolak, emang mau ujian!

Jadi, saya baca satu persatu halaman,  dan semakin dibaca, halamannya semakin bertambah *membayangkan tatapan penulis bukunya, lalu melanjutkan.

Ehem,  Ada lena, Dania, dan Dion. Tiga orang sahabat yang berbagi hasrat yang sama, hasrat terhadap sebuah film. Mereka mengejar mimpi menjadi movie maker handal dan terpandang, berawal dari sebuah klub film di sekolahnya. Sayang sekali pihak sekolah tidak mendukung, dengan alasan klub ini tidak berprestasi, sementara banyak klub lain yang juga minta dukungan. Dalam hal ini saya setuju sama pihak sekolah, tapi teuteup menusuk sanubari rasanya.

Tapi ada jalan, sebuah festival film remaja! Kalau mereka bisa menang disitu, maka dukungan dan pembinaan akan mereka dapatkan. Makanya mereka bertiga dibantu anggota kub lain, ada balia, Romi, Aya, Zaky. Yang merupakan adik kelasnya, berusaha membuat film yang keren demi menang festival tersebut. Ditambah lagi, mantan pacarnya menantang Lena bertarung di acara tersebut, dengan sebuah… taruhan!

Nah, dari sini cerita mulai bergulir dengan sangat menarik. Karena memenangkan sebuah festival sebesar itu sangat tidak mudah. Ambisi besar, tapi SDM kurang, lalu muncullah sang penolong, The Dynamic Duo Ryan-Rizki, pembuat web series yang menjadi paporit anak klub film. Tapi apakah kehadiran mereka membantu Lena memenangkan festival semudah itu? Ternyata tidak juga! Karena kehadiran Ryan dan Rizki ditentang oleh Romi, yang akhirnya hengkang dari klub film. Belum lagi konflik antara Lena vs Pak Kandar, Lena vs Adit, Lena vs Dania dan Dion. Semua bercampur jadi satu, dalam sebuah harmonisasi yang menyenangkan.

Inilah yang bikin seru membaca buku ini, karena sangat “manusiawi” sekali. Ketika kita berjuang, kita tidak akan selalu menemukan kemudahan, selalu ada kemudahan. Dan sebaliknya, ketika ada kesulitan, selalu ada kemudahan. Ritme cerita ini benar-benar enak dibaca, tidak terburu-buru dan tidak terlalu panjang sampai membosankan. Apalagi cerita ini tidak diawali dengan manis, begitu mulai langsung dibuka dengan pil pahit. Film buatan Lena dkk tidak ada yang menonton kecuali seorang anggota klub mading, yang mebuat review yang sangat buruk!

Apalah artinya sebuah cerita tanpa kisah cinta di dalamnya? Rasanya akan hambar. Dan untungnya penulis tidak lupa membubuhkan kisah cinta dalam cerita ini. Racikannya pun bagus, cerita cintanya bikin gemes, geregetan, ketawa, senyum simpul, pokoknya lucu-lucu pengen nabok gitu deh.

Tapiii sayangnya, karakter utama cerita ini, si cewek alias Lena dan Rizki, terlalu standar. Si cewek tampak sangat sangat urakan, ceroboh, nekat, nggak ada anggung-anggunnya, gurung gusuh, kalo kata orang sunda. Sementara si cowoknya itu kebalikannya. Keren, kalem, santai, cerdas, bijaksana, dan sebagainya. Belum lagi beberapa hal klise lain.

Dan ada beberapa kejanggalan buat saya. Ada adegan pemalsuan surat sekolah dan tanda tangan pejabat sekolah, tapi diberi hukuman ringan (atau malah enggak ya?), buat saya sih itu janggal, karena tindakan tersebut sudah masuk ranah kriminal.

Terus Romi yang hengkang dari klub film tapi ikut festival yang menjadi salah satu pemenang. Kok bias? Padahal si Romi ini nggak bisa bikin film, jangankan bikin film, dikasih tugas aja dianya males-malesan.

Tapiiiinya lagiii, penulisnya cerdik. Selain sekelumit kisah cinta yang hadir di sini, penulis juga menghadirkan bagian yang lain lebih menarik dari kisah cintanya. Kisah perjuangan, pengkhianatan,  persahabatan, pengorbanan, darah, keringat, air mata, air hujan, yang tersaji di cerita ini membuat saya sangat menikmati cerita ini. Dan memang saya seperti sedang menonton sebuah film, dibanding membaca sebuah buku, ah, imajinasi saya memang bagus.

Satu lagi keunikannya. Judul babnya menggunakan kata “Who” di situ. Misalkan “Who’s the creator?”, “Who’s The loser?”, “Who Are You?”, dan lain-lain.

Cuma kalo bisa sih bagian Eva-Evi cewek cantik imut-imut dan aktingnya bagus itu dihapus aja, karena agak ganggu, terutama di bagian imut-imutnya. Huahahahahaha!

Secara keseluruhan, buku ini keren. Empat dari lima bintang, syarat dan ketentuan berlaku, bila sakit berlanjut hubungi dokter