Sofia
dan Mama pindah ke Malang setelah Papa mendepak mereka demi perempuan kaya.
Gara-gara itu, Sofia berambisi menjadi pengusaha untuk membuktikan papanya salah besar. sayangnya impiannya ditentang Mama yang menganggap dunia bisnis bisa mengubah seseorang menjadi jahat.
Patrick
harus membuang impian masa mudanya demi memimpin perusahaan property papanya
yang sedang sakit keras. Pengorbanannya tak lantas membuat dia mendapat
pengakuan Papa yang selalu memandangnya sebelah mata.
Keduanya dipertemukan dalam satu kantor. Masalah jadi kian rumit saat muncul perasaan lain di antara mereka. Padahal perbedaan kasta menjadi dinding penghalang yang terlalu kokoh untuk ditembus. Apakah Sofia dan Patrick bisa menghadapi urusan mereka tentang cinta, mimpi, pekerjaan, dan keluarga? Bisakah Sofia meraih impiannya menjadi pengusaha sukses tanpa berubah menjadi seperti papanya?
Yang di atas itu adalah blurb, atau sinopsis singkat dari sebuah novel berjudul Unfinished Business, sebuah novel karya Edwin Lucas. Tahu kan blurb? Itu lho sinopsis pendek yang suka ada di bagian belakang buku. Nah udah tahu kan?
Sejujurnya waktu membaca blurb itu, saya nggak punya ekspektasi lebih sih, malah kayak biasa aja. tapi begitu say abaca, saya tersentak! Karena ditepok Satpam dari belakang, soalnya belum bayar. Jadi saya bayar dulu baru saya baca.
Tapi beneran waktu saya baca, langsung dibuat kaget dengan konflik yang disajikan dari awal. Nggak ada lagi tuh pagi datang, matahari terbit nggak ada lagi. Karena matahari banyak yang tutup. Tapi langsung disajikan konflik yang cukup berat. Sebuah konflik keluarga di dalam keluarga Sofia. Mama Sofia dan Sofia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, kemudian papa Sofia meninggalkan keluarganya untuk menikahi seorang perempuan kaya.
Sebuah trauma yang mendalam dan meninggalkan luka yang kayaknya nggak mungkin bisa sembuh karena luka itu ditorehkan oleh orang yang seharusnya jadi pelindung, panutan, malah menjadi monster bengis berdarah dingin yang tidak peduli bahwa yang dia lukai adalah keluarga dan darah dagingnya. Papanya secara terang-terangan merendahkan mamanya dan menekankan bahwa orang miskin itu cenderung lemah dan mudah ditindas. Sehingga Sofia bertekad untuk menjadi pengusaha kaya seperti keinginan papanya. Tapi mamanya Sofia melarangnya karena tidak ingin Sofia berubah menjadi bengis seperti papanya.
Sofia dan mamanya kemudian pindah ke Malang untuk melupakan masa lalunya. Tapi bukannya sembuh, Sofia malah mengalami kejadian-kejadian yang tidak enak yang malah membenarkan ucapan papanya soal orang lemah yang ditindas, sehingga tekad Sofia menjadi lebih kuat lagi untuk menjadi orang sukses.
Sofia
ingin jadi sukses dan kaya tapi dia juga tahu mamanya menentang. Maknya Sofia
diam-diam mencari jalan untuk bekerja. Dan jalan itu terbuka!
Awalnya dia sempat kecewa karena dengan kondisi dirinya yang masih berstatus siswi SMA nggak ada yang mau nerima kerja, ada yang mau malah kerja kotor, bukan kotor yang literally kotor kayak mandi lumpur ya. Tapi kotor yang busuk, nggak jujur dan sebagainya. dari situ dia bertemu dengan Patrick, seorang anak orang kaya banget! walaupun sama-sama masih SMA, tapi Patrick sudah menjabat sebagai CEO alias bos sebuah perusahaan. Dan bukan sebuah perusahaan biasa, tapi perusahaan besar.
Kayaknya
kalo ngeliat ada cowok modelan Patrick, kita bawaannya Cuma satu. Ngiri! Nggak ada
nganan, pasti ngiri! Tapi ternyata kehiduoan Patrick tidak seindah itu. sama
dengan Sofia, Patrick pun mengalami konflik dengan orangtuanya, dimana dia
selalu dituntut untuk mejadi orang yang sempurna, karena kasta keluarganya seolah
memang menuntutnya untuk seperti itu.
Tanpa diduga Sofia berhasil bekerja di kantor Patrick dan menjadi sekretaris Patrick. Ternyata Patrick memiliki tugas khusus untuk Sofia, tugasnya apa? Baca aja sendiri ya, terus nanti kasih tahu saya tugasnya apa.
Gimana tuh? Menarik kan? Dan itu ada di awal-awal cerita. Sangat intens! Tadinya saya pikir, ah paling serunya dikit, ya nanti bacanya sambil weekend deh, biar santai. Eh nggak tahunya keterusan. Bahasanya lugas, mengalirnya juga enak. Sehingga tanpa sadar saya pun jadi keterusan bacanya, niatnya buat menghabiskan weekend, eh abis!
Tapi walaupun ceritanya bagus dan enak dibaca. Ada beberapa hal yang mengganjal sih pas bacanya.
Pertama
soal karakter.
Sofia
dan Patrick sama-sama anak SMA, tapi mereka bekerja di posisi yang penting,
bukan pedagang, konten kreator, afiliator, tiktoker. Tapi CEO dan sekretaris. Kita
tahu jam kerja di kantor itu seperti apa, gimana ceritanya Sofia yang anak SMA
bisa kerja dengan jam suka-suka Patrick?
Patrick yang masih anak SMA kok bisa jadi CEO? Membawahi orang-orang yang jauh lebih tua, bahkan seumuran papanya. Bagaimana cara seorang anak SMA yang belum matang mengambil sebuah keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Mungkin di dunia nyata ada orang-orang yang seberuntung itu, tapi karena di sirkel saya nggak ada, jadi kurang relate sama kondisi itu. dan kalau mengikuti logika cerita, bisa diwajarkan. Toh perusahaannya juga punya bapaknya Patrick, jadi suka-suka dia lah mau dikasih ke siapa. memang nggak di dunia nyata, nggak di dunia fiksi, kalo kita punya uang, kita punya kuasa.
Tapi for some reason, pemilihan tokoh yang masih SMA memang disengaja, karena penulis menyasar anak-anak SMA. Ibaratnya gini deh, penulis membuat cerita ini buat ngasih gambaran ke anak-anak muda tentang gini lho dunia kerja, gini lho etika bisnis, gini lho kelakuan orang-orang kantoran. walaupun nggak 100%, tapi kira-kira gitu deh gambaran dunia nyata. Biar nggak kaget, i appreciate that!
Kedua
soal lokasi.
Disebutkan kalau Sofia dan mamanya pindah ke Malang, tapi nggak berasa Malang-nya. Saya juga belum pernah ke Malang, jadi nggak tahu juga Malang itu kayak apa. Tapi saya tahu Malang itu di daerah Jawa Timur, tapi nggak berasa ke-jawaannya. Dari aksennya, dari bahasanya, nggak terlalu berasa. Malah saya nemu bahasa jaksel dibanding bahasa jatim.
Yang
paling mengganjal buat saya sih itu. tapi terlepas dari kejanggalan itu. Unfinished
Business tetap menjadi sebuah cerita yang menarik, memikat, dan seru untuk
diikuti.

No comments:
Post a Comment