Ketika ada seseorang yang berada di luar dunia penulisan kemudian menggarap sebuah karya tulis, dalam hal ini menulis fiksi baik itu cerpen maupun novel, hal itu akan selalu menggelitik rasa penasaran. Kenapa menulis? Itu pertanyaan pertama yang akan selalu timbul. Seperti juga pertanyaan yang ditanyakan kepada seorang pengusaha yang melakukan debut sebagai penulis novel berjudul Unfinished Business.
Hari jumat tanggal 21 Februari 2025 adalah hari keberuntungan bagi beberapa orang terpilih, karena di Summarecon Mall Bandung ada peluncuran sebuah novel berjudul Unfinished Business. Dan saya termasuk ke dalam beberapa orang yang beruntung itu.
Sejujurnya walaupun saya adalah warga asli Bandung, tapi saya baru pertama kali datang ke Summarecon Mall. Karena, jauh dari rumah dan nggak ada kepentingan juga sih, hehehe… dan pertama kali saya kesan, saya cukup takjub karena mall itu ternyata… biasa aja, hahaha… tapi itu mall gede banget sih, tapi ya gitu aja, namanya mall gimana sih? Banyak orang, banyak toko. Yang dikit Cuma duit saya, hiks. Tapi waktu itu Summarecon Mall terasa berbeda, karena ya ada acara yang asyik banget, yaitu peluncuran novel Unfinished Business.
Acaranya ada di lantai dua, di exhibition hall. Dan ketika saya masuk, sudah ada petunjuk arah menuju exhibiton hall, jadi saya tinggal ikutin aja. tapi lama-lama… kok nggak nemu exhibition hall-nya, jangankan exhibiton hall, lantai 2-nya aja saya nggak nemu! Saya ngikutin petunjuk naik ke eskalator ke lantai satu, pas nyampe lantai satu… udah! Nggak ada lantai lagi! Secara logika, lantai 1 itu ada di atas lantai 2. Tapi pas saya mendongak, nggak ada! Di atas lantai 1 ya atap mall! Dimana lantai 2-nya? Eh ternyata ada, setelah saya telusuri akhirnya nemu juga, diujung. Untung nemu, kalo enggak bisa-bisa saya bikin sendiri itu lantai 2!
Dan setelah saya mengatur napas karena ngos-ngosan muterin mall, saya bisa masuk juga ke acaranya. Dan gara-gara ngatur napas dulu itu, jadinya terlambat masuk. Enggak sih, emang telat aja, karena access kesana emang padat juga lalu lintasnya. Tapi bukan alasan sih, telat ya telat aja. maaf ya…
Anyway
Acara launching buku Unfinished Business ini berlangsung cukup hangat. Walaupun tidak terlalu banyak yang datang, tapi obrolan berjalan hangat dan menyenangkan.
Waktu saya masuk, acaranya udah dimulai, berupa talk show antara penulis buku Unfinished Business, Edwin Lucas bersama Eva Sri Rahayu sebagai host. Bagian pertama dibuka dengan mengulik sip aitu Edwin Lucas. Yang ternyata adalah seorang pengusaha yang sukses. Kemudian dilanjutkan dengan membahas tentang buku yang ditulisnya. Di sini juga dibuka sesi tanya-jawab. beberapa orang tampak tidak sabar untuk mengajukan pertanyaan, karena memang penasaran dengan background penulis yang luar biasa ini.
Tentu ada game juga dong. tapi ini gamenya berbeda. Bukan balap karung, permen dalgona, sikat gigi buaya atau massage baby kuda nil. Tapi sebuah game bernama CEO challenge! Di game ini peserta ditantang untuk menjadi seorang CEO. Dimana peserta diberi sebuah “masalah” dan peserta bertindak sebagai seorang CEO yang harus menyelamatkan perusahaannya dan menggandeng investor. Ada tiga masalah yang berbeda yang diberikan kepada peserta untuk dipikirkan solusinya.
Ini adalah sebuah challenge yang sangat menarik. Sayangnya ini adalah challenge yang tidak bisa saya lakukan, karena begitu saya lihat soalnya, tiba-tiba saya blank. Tapi ada peserta yang bisa menjawab challenge itu, dan jawabannya memang masuk akal buat saya, bukan Cuma buat saya, tapi buat Pak Edwin juga cukup mengesankan, artinya memang jawabannya benar, nggak sekedar menerka-nerka.
Edwin Lucas sebagai seorang pengusaha yang kemudian menjadi penulis memang mengundang banyak pertanyaan. Dan memang beliau ini bukan orang sembarangan, beliau melakukan semua proses penulisan dengan riset dan ditulis sendiri, bukan pakai ghost writer. Bayangkan, seorang pengusaha yang super sibuk masih menyempatkan waktu untuk menulis. Sebuah komitmen yang sungguh sangat tidak main-main. Kaum mageran harusnya malu sih sama Pak Edwin Lucas ini. Maka dari itu, para penonton bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sana terlihat antusias untuk bertanya kepada narasumber di acara itu.
Sebagai seorang pengusaha, Pak Edwin Lucas ini punya segudang ilmu tentang dunia bisnis yang ingin dia bagikan. Makanya beliau memutuskan untuk menulis buku, tapi kalau hanya buku bisnis, nggak seru, berpotensi membosankan. Makanya dibuatlah dalam bentuk fiksi. Dan sebagian dari cerita Unfinished Business diambil dari pengalaman pribadi Pak Edwin, supaya lebih relate. Dia berharap novel ini bisa memberikan hiburan sekaligus pengetahuan dan filosofi bisnis. Bayangkan betapa serunya hidup ketika punya passion dan terwujud. Luar biasa nggak sih?
Kembali dari yang disebutkan di awal. Edwin Lucas ini adalah seorang pengusaha, tapi kemudian dia memulai debut menulis buku. Yang menariknya adalah ketika ditanya kenapa menulis buku, dan saya mendengar alasan yang sama dengan beberapa penulis lainnya. Yaitu…
Menuju keabadian.
Manusia akan menghilang, tapi karya akan abadi. Maka dengan adanya karya, maka kehadiran kita akan selalu ada di dunia ini. Kira-kira begitu. Begitu katanya.
Sebuah
premis yang menarik. Karena kalau kita membaca atau mendengarkan pepatah
semacam gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Kita
sebagai manusia, makhluk yang kompleks ini akan meninggalkan apa? Utang pinjol?
Enggak dong?
Sekarang
bayangkan. Hidup di dunia aja kita udah ganggu orang. Tetangga, teman, menjauhi
kita karena kebagian teror pinjol. Masa di makam kita mau dijauhin mayat lain
karena diteror debt collector. “Bilangin ke mayat sebelah lo, bayar hutangnya!”
beban nggak sih!



No comments:
Post a Comment