Monday, November 29, 2021

FINDING AKSARA


Kalo kita nonton film India, film Jepang, Korea, bahkan Rusia, biasanya sih film Amerika tapi musuhnya Rusia. Ada yang unik dari film-film itu, bukan hanya soal cerita, tapi penampakan hurufnya. India, Jepan, Kore punya huruf yang unik, mereka nggak pakai huruf latin, tapi pakai huruf kanji, hangeul, atau aksara Devanagri. Nah, itu kan negara lain. Di Indonesia ada nggak ya huruf atau aksara tertentu semacam itu?

Eh ternyata ada lho! Kita juga ternyata punya aksara sendiri, ada aksara sunda, dan aksara Jawa. Bahkan dalam perbincangan Merajut Indonesia bersama Mas Ridwan, ternyata aksara di Indonesia ini banyak! Dalam acara talk show melalui media live IG antara Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) lewat program Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) melawan Ridwan Maulana, seorang penulis, pegiat literasi digitalisasi aksara Indonesia. Menyatakan bahwa di Indonesia sendiri banyak memiliki aksara. Di Sumatera ada, di Jawa ada, bahkan Bali ada.

Nah masalahnya gini, aksara ini tidak begitu banyak sumber informasinya, karena di Indonesia sendiri konon katanya budaya lisan lebih kuat dibanding budaya tulisan, makanya sumber informasi soal aksara ini sangat minim, jadi mungkin saja sebenarnya setiap pulau, setiap provinsi, setiap suku ada bahasa dan ada aksara sendiri-sendiri, tapi karena budaya lisan lebih kuat, makanya seolah-olah aksara selain aksara Sunda dan Jawa seolah-olah tidak ada, padahal belum tentu ada, hehehe…

Minat dan ketertarikan dari Mas Ridwan untuk melestarikan aksara ini luar biasa lho, dia mempelajari banyak literatur, banyak jurnal penelitian, baik itu yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Belanda. Yang tidak diteliti mungkin Cuma bahasa kalbu. Tidak hanya melakukan serangkaian penelitian, tapi juga membuat rangkuman aksara dan pengenalan aksara Indonesia dalam bentuk blog, konten media sosial, buku ensiklopedia, artikel terjemahan di website omniglot.com lalu membuat font-font aksara, mendirikan writing tradition project, dan admin creator di Aksara di Nusantara.

Beliau ini juga pernah diundang Badan Bahasa Kemendikbud sebagai pembicara mengenai usaha pelestarian aksara dan ekonomi kreatif dalam Gelar Wicara Peringatan Bahasa Ibu Internasional. Bahkan sampai sekarang masih menerima dan melayani berbagai pertanyaan tentang aksara melalui emailnya. Font-font aksara yang dibuatnya bisa digunakan dan diunduh secara bebas dari situs aksaradinusantara.com gimana itu, luar biasa berdedikasi sekali beliau ini ya?

Nah sekarang gini, pertanyaannya adalah penting nggak sih kita tahu soal aksara? Penting atau nggak penting kayaknya itu bukan hal yang terlalu penting sih, kalo menurut saya lho ya. Tapi tidak ada salahnya bagi kita untuk tahu bahwa di Indonesia ini ada aksara tradisional, atau aksara sendiri. nah kalau memang ada aksara khas Indonesia, kenapa tidak digunakan? Mungkin karena setiap daerah ada aksara sendiri kali ya? Jadi istilahnya belum ada aksara persatuan, kalo bahasa persatuan kan ada, tapi aksara persatuan nggak ada. Mungkin ini salah satu sebabnya aksara di nusantara nggak banyak dipakai.

Kalau menyimak perbincangan mengenai aksara ini, ini sebenarnya menarik, tapi untuk kalangan tertentu saja. Penggiat literasi, penyuka literasi, dan orang yang memang menggeluti literasi. Sementara untuk orang awam kayaknya agak “rumit” apalagi yang belum bisa baca tulis, makin rumit lagi, huruf latin aja belum bisa, apalagi aksara kuno.

Buku, ensiklopedia, website, bisa jadi menarik untuk orang yang menggeluti bidang literasi. Colek aja dikit, mereka pasti langsung antusias. Sementara untuk orang awam, perlu usaha yang ekstra. Bukan hanya usaha untuk mempelajari, tapi usaha untuk mengenalkan apa itu aksara, bagaimana bentuknya, dan sebagainya.

Mari kita bicara secara dangkal, karena yang nulis ini juga orangnya dangkal.

Kita ingin mengenalkan soal aksara nusantara kepada generasi muda. Lalu kita jejali dengan doktrin bahwa ini adalah kekayaan bangsa yang harus dilestarikan, maka niscaya generasi muda hanya akan menanggapi dengan “Oh,” , “Oke,”, “Keren,”, “Sumpah demi apa gue baru tahu Indonesia punya huruf kayak Hangeul!”

Tapi ya udah, berhenti sampai di situ. Pengenalan aksara nusantara perlu dilakukan, tapi harus ada triknya. Jangan jor-joran, gede-gedean, lalu hilang. Tapi dalam promosi, dalam pengenalan diperlukan langakah yang kecil tapi konsisten, tidak terputus.

Hindari mengenalkan aksara nusantara secara filosofis, itu akan membebani pikiran. Karena filosofi yang bisa diterima oleh generasi muda hanya filosofi kopi. Kita harus merebut perhatian generasi muda dengan tampilan visual, tampilan yang eshthethique! Nggak usah yang filosofis, cukup dengan, aksara nusantara ini tampilannya keren, udah gitu aja dulu.

Nah caranya gimana?

Nah… gimana coba? Ada ide?

Tuesday, June 2, 2020

THE BLUE HOUSE

Di masa pandemi ini, sebagai seorang Ojol Warrior, saya adalah satu dari semua driver yang mengalami kesulitan. karena di masa pandemi ini layanan antar penumpang ditutup, yang ada cuma layanan kirim barang dan beli atau belanja makanan. Dan jujur aja, orderan seperti ini jarang, maksudnya ordernya ada, tapi tentunya lalu lintas barang tidak sebanyak lalu lintas orang.

Driver itu, jangankan ada pandemi, kasih aja hujan, mendem kita! Kayak biskuit dicelupin ke susu, melempem! Apalagi udah mah pandemi, hujan! Udah, wassalam kita!

Nah, karena orderan dikit, jadi ketika dapet satu orderan, semangat kita! Biasanya banyak driver yang agak males kalo orderannya jarak jauh, pengennya yang deket, kalo perlu yang tinggal ngesot doang. Akan tetapi masa pandemi ini, jangankan yang deket, yang jauh disikat juga! Jangankan antar kelurahan atau antar kelurahan, disuruh ngirim ke Planet Namec juga dijabanin!

Nah, saya dapet nih orderan kirim barang, jaraknya sekitar 19km, kurang lebih. Oh tidak masalah! Saya berangkat menyusuri kota yang jalannya ditutup disana-sini, muter-muter nggak nyampe-nyampe, kesel!

Nah kira-kira udah deket, saya telpon si penerima paket. Si penerima bilangnya, masuk aja ke dalem, di ujung deket portal, rumahnya warna biru, kalo nggak ketemu tanya aja!

Oke!

Dengan penuh percaya diri saya masuk jalan, saya telusuri jalanan mencari rumah warna biru, dan ternyata... nggak ada! Nggak ada! NGGAK ADA RUMAH WARNA BIRU!

Saya jalan terus sampe ujung, sampe portal. sebuah portal tempat wisata alam yang terkenal. tanya-tanya sama yang jaga, kebetulan ada, sama sekalian basa-basi. saya tanya nama yang bersangkutan, dia nggak tahu. Tapi dia bilang, mungkin sebelah sana, ada pengkolan ke kanan, mungkin di sekitar situ. Saya manggut-manggut.

Saya turun, ke jalan yang dituju, dan... nggak ada rumah warna biru. Saya turun lagi sampe ke jalan besar, naik lagi ke portal, turun lagi, balik lagi ke atas. ketemu lagi sama penjaga yang tadi. MALU SAYA! Bahkan si bapak bantuin saya nyari. Dia nyariin namanya.

DAN KETEMU!

Dimana? Jaraknya cuma dua rumah dari portal! DUA RUMAH! DUA RUMAH! Dan warnanya BUKAN BIRU!

Saya kasih barangnya ke pemilik rumah, karena nama penerima paket lagi kerja. Saya bingung, kenapa si penerima paket bilang rumahnya warna biru, sementara rumahnya aslinya warna cream. Nggak sengaja saya nengok, ternyata warna biru yang dimaksud si penerima paket... ADA DI SAMPING RUMAH! DI TEMBOK SAMPING! TEMBOK SAMPING!

Gini lho, untuk mengidentifikasi sebuah alamat rumah atau tempat, kita kasih mukanya kan? Depannya kan? Warna pintunya, warna pagernya, cat tembok depannya, taman.

Sekarang pernah nggak kalian ke rumah siapa gitu, temen misalkan. Terus temen kalian bilang. Itu rumah gue yang ubin ruang tamunya pecah-pecah, itu lho yang kamar mandinya dua belas, gampang kok itu yang gentengnya segitiga. ENGGAK DONG!

Kalo kalian datang ke rumah orang terus langsung masuk ke kamar mandi dan ngitung jumlah kamar mandinya, belum selesai ngitung, udah dikeplak baskom kepala kalian!

Emang kalian pernah sengaja masuk rumah orang buat ngeliat ubinnya pecah-pecah atau enggak? Kalo nggak pecah gimana? Mau dipecahin ubinnya? Sekarang lebih cepet mana, ubin yang pecah atau kepala kau yang pecah duluan?

Kecuali kalo kalian bisa terbang, nah, cari deh itu genteng segitiga! Kalo nggak segitiga, kalian gigitin itu genteng sampe segitiga!

KESEL! 
   

Sunday, January 19, 2020

Mengejar Upin & Ipin

Saya nonton dan penggemar serial kartun Malaysia Upin & Ipin, ya siapa yang enggak ya? kayaknya semua suka, kecuali yang tersindir sama episode jerebu. Tapi saya enggak, kan emang kenyataan begitu, negara tetangga tercemar asap, sama kayak saya yang tercemar vape. Bukan obat nyamuk ya, kalo saya nyamuk nguing-nguing dong? Hahahahaaaduh nggak lucu.

Oke skip aja...

Nah jadi gini, suatu hari saya nonton episode UpinIpin yang episode piala dunia, ceritanya mereka sama Tok Dalang nobar pildun di warung Uncle Mutu. nah besoknya mereka tuh berkhayal bahwa mereka jadi pemain timnas lalu berlaga di ajang piala dunia, dan mereka menang dengan dramatis. Nah ceritanya sih biasa aja ya, khayalan tentang berlaga di ajang besar seperti piala dunia memang kerap terjadi, jangankan anak-anak orang dewasa juga, pada ngimpi. Tapi ya orang kita mah jagonya ngimpi *hasek!

Oke kita kembali ke pembahasan, ceileeee siapa yang juga ngebahas, guenya aja butuh konten, hahahahaaaaduh minta ditampol gue...

Oke, gini. Di ending ceritanya mereka ngambil foto, pose kesebalasan. Dan yang menarik adalah tulisan di bawah foto itu "Suatu Hari Nanti..."

Gila! waktu nonton itu saya merinding sumpah! Bahkan berkali-kali saya nonton, saya masih merinding. Bayangkan hanya satu kalimat pendek, tapi bisa menggugah optimisme. Paling tidak saya sih gitu.

Atau saya aja yang ngerasa begitu ya? Hehehe...

Tapi saya optimis bahwa bukan saya saja yang tergerak, mungkin ada jutaan orang lain yang memiliki mimpi ke ajang pildun yang juga tergerak oleh kalimat sederhana itu.

Kemudian saya nonton lagi, dan saya menyadari bahwa cerita Upin & Ipin ini tidak hanya serputar sebatas kehidupan mereka sehari-hari. Kehidupan mereka sehari-hari sih, tapi justru dalam kehidupan sehari-hari itu banyak sekali pesan edukasi yang disampaikan.

Ada cerita yang enteng kayak misalkan lomba durian, miara berudu, ngejar Rambo, jadi detektif, berpetualang ke masa lalu, ke masa depan, malah mereka pernah berubah wujud jadi pensil, jam weker, buku..

Tapi ada juga yang berat. Misal. Soal rajin belajar, kerja atau nabung kalo pengen sesuatu, soal tepat waktu, menghargai pembaerian orang, penyuluhan kebakaran, mengatasi ular, bahkan sampai hal-hal yang berat semacam, toleransi, keragaman, menghormati orang lain, sampai ke masalah anti korupsi, serius! Kalo nggak percaya, cari aja deh atau nonton aja, kan masih tayang juga. gratis kok di tv, nggak usah streaming.

Mereka mengajarkan soal literasi ketika di salah satu episode mereka berubah jadi buku, mengajarkan soal waktu ketika mereka berubah menjadi jam weker, mencintain alam ketika mereka berubah jadi ikan.

bagusnya dari Upin & Ipin ini mereka mengajarkan dengan cara yang sangat menghibur, yang kalo dibikin disini jatohnya akan jadi sangat membosankan, menggurui, dan nggak akan ditonton.

Maaf nih, bukannya nggak cinta produk dalam negeri, tapi salah satu animasi dalam negeri ngajarin soal penyuluhan mengatasi kebakaran. Dan itu sangat membosankan, kayak penyuluhan RW, seminar formalitas, nggak seru.

Beberapa hari sebelum saya menulis entri ini saya nonton podcast Deddy Corbuzier sama Billy Mambasar, di menit kesekian Deddy bilang bahwa segala macam cita-cita, mimpi Jokowi tentang Indonesia harusnya bisa disampaikan dengan baik, salah satunya melalui peran influencer, yang kocak Billy nanya balik ke Deddy emang berapa orang influencer baik yang bisa menyampaikan pesan tentang optimisme? Deddy ngakak, saya juga. Karena kalo dipikir-pikir ya bener juga, influencer baik kan cuma dikit, sisanya ya... baik banget! Huahahaha!

Nah saya jadi kepikiran kan, bener juga. Jangan-jangan itu yang dilakukan sama pemerintah Malaysia, mereka menyampaikan nila-nilai luhur melalui Upin & Ipin, Ejen Ali, Boboi Boy. Siapa tahu. Terlepas dari kemungkinan produsen film tersebut memang memiliki nasionalis yang tinggi.

Jadi menurut saya, untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila, nilai adat budaya, dan segala macam sifat baik yang ada di negara ini. Selain melalui kurikulum pendidikan, melalui badan apa itu namanya ya? BPIP yang diketuai Bu Mega. ada satu cara yagn bisa dilakukan. Melalui pembuat cerita, story teller, story writer.

Saya yakin, para penulis cerita yang kita punya memiliki kemampuan membuat cerita yang mendalam, edukatif, dan menghibur. Dengan Upin & Ipin sebagai standar terbawah. Kenapa saya standarnya Upin & Ipin? Ya karena saya nontonnya itu, hahaha.

Saya yakin, kita punya kemampuan seperti itu, saya yakin  walaupun saya memiliki kemampuan itu dalam kualitas standar, tapi pasti ada yang punya kualitas tinggi.

Satu sumber daya kita punya, para penulis cerita yang memiliki kepedulian terhadap bangsa ini. Tinggal butuh medianya, tapi media yang ada memiliki orientasi bisnis, profit, keuntungan, tidak salah, namanya juga bisnis. Kalo bis antarkota, itu buat mudik. Hahahahahaduuuuh... udah pengen merajam saya ya?

Orang yang peduli ada, berkemampuan ada, media ada, tapi jembatannya belum ada. Mungkin ini adalah bagian dari pemerintah?

Malaysia punya Upin & Ipin, kita punya Unyil. Daripada si Unyil jalan-jalan ke pabrik-pabrik ye kan? Bukannya nggak bagus ke pabrik, bagus aja, tapi Unyil bisa dibuat lebih efektif lagi dari sekedar cuma jalan-jalan.

Memang nggak bisa instan, perlu proses yang panjang. Makanya harus dimulai sesegera mungkin, kalo bisa sekarang, mungkin, kalo saya ada modal.

Ada yang bisa menyampaikan ini ke Presiden atau Bang Billy? Mereka harus tahu soal ini, Presiden Jokowi, Billy Mambasar, Erick Tohir, Nadiem Makarim, Whisnutama,anaknya Harry Tanoe, putri Tanjung, stafsus milenial, kementrian kreatif, lembaga terkait, media harus bicara kepada saya, untuk mulai menyelamatkan negara, bangsa, dan kemanusiaan!

*ditoyor netijen, elu siapaaaaaa!!!

Sunday, September 22, 2019

Bancakan

Selama kurleb 25thn saya hidup bersama orangtua saya di sebuah rumah yang terletak di dalam sebuah gang sempit. Gangnya sempit banget, kalo ada yang naek nmax masuk gang rumah saya pasti saya sumpahin bau mulut 30thn nggak sembuh-sembuh!

Nggak mikir itu penghuni gang, usah jelas gang sempit pake nmax! Kucing aja kalo ketemu di tengah gang berdiri pake dua kaki sambil mepet tembok, ini pake nmax!

Setelah saya menikah dan berkeluarga saya tinggal di rumah mertua.

Iya saya tinggal di rumah mertua, emang kenapa? Udah urusin urusan masing-masing aja ya. Kalo ngurus KTP udah bisa tinggal ngeprint di fotokopian, baru ngurusin orang lain. Oke? Bagus!

Nah kembali lagi. Saya tinggal zama mertua, tapi masih sering ke rumah orangtua, karena nggak jauh sih cuma beda kecamatan aja. Kadang saya datang paket komplit, saya sekeluarga. Kadang paket hemat, saya sama anak aja. Kadang ala carte, saya doang. Biasanya kalo lagi ngojek tuh saya suka mampir ke rumah orangtua. Sekedar istirahat tiduran bentar, mampir minta minum, minta makan, minta bensin, minta uang sekolah anak, minta uang buat traveling ke Eropa.

Iya, saya emang anak bajingan.

Nah, beberapa hari yang lalu saya mampir di sela-sela kesibukkan ngojek. Saya datang ala carte, sendirian. Nah pas saya datang ada tetangga lagi bagi-bagi nasi bungkus karena anaknya lagi ulang tahun. Nggak banyak sih, dikit doang paling paket sekitar 20anak.

Tahu istilah bancakan nggak? Menyedihkan sih istilah bancakan zaman sekarang, identiknya sama dana bancakan korupsi. Padahal waktu saya kecil, kalo denger bancakan itu selalu disambut dengan sukacita.

Jadi nasi yang dibagiin dalam rangka ultah itu kalo di saya itu disebutnya nasi bancakan. Nasi bagi-bagi dalam rangka syukuran. Tapi istilah nasi bancakan ini dipake pas lagi ada anak kecil ultah aja. Kalo acara lain nggak disebut bancakan.
Nasinya sederhana sih, namanya juga acara anak-anak. Isinya paling nasi kuning atau nasi uduk, pake telor yang disuir atau relor rebus setengah, terus kentang sama bihun.

Kenapa sederhana? Karena kami hanya anak gang yang miskin. Coba kalo yang ultahnya anak raja Arab. Mungkin telornya dilapis emas, pake nasi tumpeng yang di puncaknya dihiasi swarovski, ayamnya sekandang, bawahnya tetep bihun. Bihun is passion.

Tapi walaupun sederhana anak-anak dikasih gitu udah girang banget, apalagi kalo ditambahin ager-ager, wah didoain sampe seminggu tuh yang hajat.

Nah abis bagi-bagi gitu nanti biasana si orangtuanya keluar rumah, berdiri di pager terus manggilin anak-anak.

"Hei anak-anak, jangan lupa yang udah dapet nasi, bayar!"

Hahahah, enggak, enggak. Biasanya orangtuanya manggil anak-anak sekitar.

"Hei anak-anak, kumpul saweran!"

Nah langsung rusuh deh tuh anak-anak! Yang dapet nasi yang nggak dapet ngumpul semua. Anak perempuan, anak laki-laki, anak kecil, anak gede, anakonda. Kumpul semua! Dan seringkali ibu-ibunya ikutan kumpul juga rebutan saweran sambil ketawa-ketawa.

Nah biasanya uangnya bertahap. Ada yang recehan, biasanya ditempel sama permen, ada yang dua ribuan, biasanya dilipet-lipet sampe kecil banget seukuran mikroskopis. Ada yang sepuluh ribuan, biasanya ditempel ke batu bata.

Nah disebar deh tuh uangnya. Anak-anak sama ibu-ibu rebutan. Biasanya teriak doang tapi nggak dapet. Abis itu selesai saweran terus berdoa. Orangtuanya biasanya yang minta doa. Nggal doa resmi sih cuma bilang makasih sama semoga anaknya jadi gini-gitu. Lalu diaminkan sama semua anak dan orangtua yang ada di situ. Abis itu bubar sambil sorak sorai ngitung duit yang didapet, yang ibu-ibu biasanya ngomel-ngomel sambil ketawa-ketawa karena nggak dapet duitnya. Tapi emang nggak ngarep dapet duitnya, cuma seru-seruan aja.

Di tempat tinggal saya sekarang nggak ada anak yang seumuran anak saya sih, jadi nggak ada acara bancakan gitu. Ada sih anak-anak di sekolah atau di tempat ngaji. Tapi saya belum pernah denger  ada istilah bancakan di sini. Saya pernah bikin acara bancakan gitu tapi duluuu, sekitar empat-enam tahun yang lalu, itupun ponakan saya yang bancakan, bukan anak saya.

Acaranya sih gitu doang sih, serunya cuma segitu doang. Tapi sejumput keseruan itu sedikit... apa ya? Bring back time to the past gitu. Semua guyub, bersatu, gembira, seru. Jadi nostalgic gitu.

Keren ya negara +62 ya?

Saturday, July 6, 2019

The Devil's Zodiac

Kita sebagai manusia dianugerahi akal pikiran yang, disadari atau tidak, selalu bekerja setiap saat. Walaupun bobot pekerjaannya berbeda-beda. Akal pikiran kita berkembang karena kita selalu bertanya-tanya tentang sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Baik itu sesuatu yang terjadi di luar diri kita, atau dari dalam diri kita.

Rasa penasaran membuat kita selalu bertanya-tanya, rasa penasaran membuat kita selalu berpikir. Walaupun rasa penasaran kadang malah mencelakakan kita. Makanya ada istilah curiousty kills the cat. Rasa penasaran itu muncul karena kita nggak tahu, dan rasa penasaran paling besar itu adalah rasa penasaran terhadap diri kita sendiri.

Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan. Ada yang punya facebook? Oke itu pertanyaan bodoh. Ya pasti pada punya lah ya, entah itu aktif atau enggak. Kalopun ada yang nggak punya, dikit lah jumlahnya kalo dibanding sama yang punya. Betul? Betul!

Di timeline fb saya selain ada cerita dari kawan online, ada juga berita dan iklan yang disodorkan. Terus ada juga yang share artikel berita, video lucu, kuis, atau artikel ringan apalah gitu ya.

Nah suatu hari ada yang share artikel dari kumparan soal rasi bintang, zodiac, yoi.

Gini. Kita akui lah ya, kita pasti suka lah baca zodiac, ya nggak sih? Dan waktu baca itu kita pasti dalam hati tuh kayak yang, iya gitu? Masa sih? Eh iya bener ini gue banget. Iya kan? Ngaku  aja. Saya juga gitu kok. Kenapa? Ya karena kita manusia yang punya rasa penasaran terutama pada diri sendiri. Makanya segala macam ramalan itu pasti laku. Dari zodiac, shio, hari lahir, tanggal, tahun, cuaca, bentuk muka, tahi lalat, cara tidur, cara bersin, cara ngedip, aliran darah, kartu remi, kartu tarot, bpjs, dsb pasti banyak yang baca.

Awalnya saya cuek aja, ya biasa aja gitu. Tapi lama-lama kok jadi makin banyak yang share dan makin sering yang nongol. Si zodiak yang dishare itu bukan tipe ramalan harian, bulanan, atau tahunan ya, karena ya itu zodiak kali ya bukan kontrakan.

Tipe zodiak yang dibagi itu tipe zodiak on the spot gitu. Lima zodiak paling romantis, lima zodiak paling pengertian, lima zodiak paling peka, paling males, paling santuy, dsb. Saya sih lebih percaya sama yang kayak gitu dibanding yang akan mendapatkan ini-itu di awal tahun dsb.

Saya buka, dan zodiak saya nggak ada. Oke, fine ya sudahlah. Tapi besoknya dan besoknya saya penasaran dan buka lagi. Dan ternyata zodiak saya nggak ada lagi, besoknya nggak ada juga. Serius! Zodiak saya nggak masuk top five.

Dari mulai yang bagus-bagus sampe yang jelek-jelek.

Paling romantis, paling peka, paling cerdas, paling adil, paling ideal. Nggak ada. Terus yang paling males, paling santuy, paling keras kepala, paling cuek, paling nggak peka. Nggak ada juga! Asli!!

Ini saya sampe mikir, zodiak saya ini hidup ada gunanya apa enggak sih? Tarolah ada 12 zodiak, 5 bagus 5 jelek, 1 netral, nah zodiak saya ini kayaknya hasil ngocok arisan nih buat pelengkap doang. Kayak kerupuk, pelengkap makan tapi sering kelupaan dan dibiarin sampe melempem, kalopun dimakan itu karena udah digigit dan nggak ada lagi yang mau.

Saya stres, sampe kepikiran bahwa hidup saya tidak berguna ya karena zodiak saya tidak berperan dalam kehidupan. Saya pengen ganti zodiak, atau bikin zodiak baru aja sekalian apa ya?

Sampai suatu hari, saya saya menemukan artikel tentang zodiak paling pendendam. Dan zodiak saya ada di urutan nomer 1. Nomer 1, nomer satu! Paling atas!! Juaraa!! Sumpah!!!

Saya nggak inget persis isinya kayak apa. Tapi kurang lebih gini :
Bahwa zodiak saya adalah zodiak pendendam, kalo ada yang menyakiti dia tidak akan segan-segan untuk membalas, bahkan membunuh!

Edan! Membunuh lho! Menyakiti!! Membunuh!!!!

Gila! Saya ini cemen lho, jangankan balas dendam, denger istri saya manggil sambil teriak dikit aja saya mengkerut kayak putri malu, ini malah membunuh! Gilaaa!!!

Kenapa zodiak lain saya nggak ada, tapi di situ saya malah urutan pertama. Ini zodiak dajjal apa gimana? Saya shock lho. Saya buka artikel lain, memang nggak ada zodiak saya. Cuma di situ adanya. Ngeri banget lah!!

Tuesday, June 4, 2019

Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini...

Nggak kerasa ya puasanya udahan. Semoga bisa ketemu lagi puasa tahun depan.

Konon katanya bulan puasa adalah bulan berkah. Makanya banyak orang yang berbagi di bulan puasa, salah satunya lewat bagi-bagi takjil gratis di jalan-jalan.

Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini saya rada susah dapet takjil gratis, nggak nemu! Kalopun nemu malah nggak dapet. Saya baru pecah telor itu dapet takjil gratis di akhir-akhir puasa.

Pernah saya lagi di jalan, terus di depan pas di pengkolan ada mesjid. Di depan mesjid ada yang bagi-bagi takjil walaupun kurma dan air putih doang. Tapi nggak apa-apa, yang penting berkahnya. Udah ancang-ancang tuh saya, motor udah dibawa ke jalur kanan. Eh ternyata ada kendaraan di sebelah kanan, saya jadi ketahan nggak bisa ke jalur kanan. Pas saya liat di jalur kiri ada juga pembagian, panitia yang sama. Tapi saya ketahan di tengah, mau ke kiri agak jauh, ke kanan kehalingan. Jadi ngambanng di tengah-tengah, jalan aja udah, skip deh takjil gratisnya.

Ya udah, bukan rejekinya. Jalan lagi aja.

Terus lain hari ada lagi bagi-bagi takjil, dari jauh udah liat, mereka ngasihnya milih, yang bawa motor sama supir angkot. Saya bawa motor, ekspektasi langsung tinggi dong! Udah gitu ngasihnya pake dus, wah banyak ini isinya. Saya pikir gitu. Dari jauh saya liat mereka ngasih di pinggir, terus ke tengah. Langsung saya bawa motor ke tengah dengan harapan tinggi. Pas nyampe tengah saya sama orang yang bagiin itu udah saling liat-liatan, udah membangun chemistry gitu. Saya udah pasang tampang memelas, kayak yang lapar, capek menanggung beban dunia gitu. Orangnya mendekat, muka saya makjn melas. Pas di depan saya orang itu... lewat gitu aja, dia ngasih ke supir angkot, saya dilewat! Perih! Padahal muka saya udah tragedi banget! Malah yang dapet penumpang saya! Sayanya enggak lho! Perih! Walaupun akhirnya si penumpang ngasihin juga sih ke saya takjilnya. Ya lumayan lah perihnya terobati.

Nah biasanya yang jualan di bulan puasa itu kan kebanyakan ibu-ibu gitu ya. Saya selalu salut sama semagat ibu-ibu. Tapi semangat ibu-ibu itupun menjerumuskan saya dalam rasa sakit yang cukup dalam, sangat dalam! Jadi gini.

Kali ini kejadiannya di pinggir jalan, di sebuah pertigaan, sebelah kiri saya itu jalan keluar dari sebuah kampus besar. Di pertigaan itu ada anak-anak kampus lagi bagi-bagi takjil. Dari arah kampus ada barisan kendaraan mai keluar, dari arah jalan saya berhenti dong ngasih kesempatan kendaraan dari kampus keluar. Nah di situ ada salah satu anak kampus yang ngeliay saya, saya juga ngeliat dia, ada arus listrik pertautan hati di situ saya yakin dia membaca hati saya yahg pengen dapet takjil gratis. Kenapa saya yakin? Karena dia bergegas ngambil satu bungkus, dan dianjalan mendekati saya. Saya udah senang, sumringah, alhamdulillah dapet takjil gratis!

Tapi apa yang terjadi? Dari belakang anak kampus itu tiba-tiba muncul ibu-ibu entah dari mana. Asli, saya nggak liat si ibu nongolnya gimana, mungkin dia ibunya Naruto muncul dari kepulan asap. Dia manggil si anak kampus itu.

"Jang, minta dua!"
"Iya!"

Seketika si anak kampus yang udah nyamperin saya langsung balik kanan dan ngasih ke si ibu dua bungkus. Sakit! Sakit! Sakiiit! Langsung rontok saya, remuk redam hati ini! Udah gitu barisan kendaraan dari kampus udah habis, giliran barisan saya. Mau nggak mau harus jalan dong! Kalo enggak bisa budeg saya diklaksonin. Akhirnya ya saya bisa apa? Saya jalan lah dengan lunglai, dengan hati yang berantakan.

Ibu-ibu, mau pake motor metik atau jalan kaki. Sama-sama nggak bisa dilawan!

Monday, April 22, 2019

PERTANYAAN SATU JUTA DOLAR


Anomaly cuaca yang terjadi di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum memang bikin bimbang kita sebagai manusia yang hidup di muka bumi.

Ketinggian bahasanyaaaa, hahaha.
Ya pokoknya gini deh, cuaca akhir-akhir ini kan agak aneh ya. Kalo biasanya bulan-bulan ini harusnya udah kemarau, tapi ternyata masih ada  turun hujan. Kadang tuh pagi sampe siang panaas banget, eh tau-tau jam duaan jebret turun hujan. Dan seringnya hujannya turun nggak pake basa-basi, tiba-tiba gede aja, nggak pake gerimis gitu. Ada juga kadang geladak-geluduk, ujannya nggak nongol. Ada yang hujannya gerimis-kecil-gemesh tapi nggak berhenti.

Nah sebagai pekerja lapangan, dalam hal ini sebagai driver ojol, ini bikin bimbang. Mau ngider tapi nanti basah, nggak ngider tapi belum turun hujan, mau jalan tapi takutnya turun hujan. Maka dari itu saya sebagai pekerja lapangan, saya harus selalu standby, paling tidak kalopun di jalan hujan, saya nggak basah-basah amat. Makanya saya selalu siap jas hujan. Nah ini masalahnya.

Saya tuh heran ya. Misalkan gini. Kam saya lagi jalan tuh, terus masuk order, saya ambil terus jalan deh sama konsumen. Terus di jalan hujan, saya tawarin.

"Pak/Bu, mau pake jas hujan?"
"Nggak usah, Bapak aja yang pake."
"Tenang, saya ada dua kok.:
"Oh ada dua? Boleh deh."

Nah ini agak aneh, maksudnya gimana ya? Saya tuh nawarin karena saya memang selalu punya dua. Makanya saya tawarin. Memang beredar banyak cerita kalo driver berkorban buat kenyamanan konsumen, sementara drivernya sendiri kehujanan. Tapi kan nggak semuanya, banyak juga yang punya dua. Saya misalkan. Karena saya nggak semurah hati itu lho, sampe mau berkorban buat pelanggan. Kalo mau, kita neduh dulu, atau ujan-ujanan berdua. Gitu!

Tapi ya memang orang Indonesia ini baik-baik semuyanya, mikirin drivernya, nggak mikirin diri sendiri. Cuma ya saya sih kasian aja gitu kalo liat penumpang basah kuyup sementara saya basah doang.

Ada yang agak konyol sih soal jas hujan ini, sebenernya nggak penting-penting amat juga, nggak akan mengubah arah kebijakan perang dagang negara adidaya, enggak, ketinggian itu mah. Kutakpaham kalo soal itu. Tapi gimana ya, bikin gelisah gitu.

Jadi gini. Saya lagi jalan, terus dapet order ke sekitaran Dago. Nah pulangnya saya dapet lagi order ke daerah Antapani. Lumayan. Nah baru jalan berapa ratus meter tiba-tiba hujan, hujannya lumayan agak ada basa-basi. Gerimis, tapi tetesannya gede-gede. Segede gelas. Buru-burulah saya tanya.

"Pak. Mau pake jas hujan?"
"Kayaknya hujannya mau gede ya?"
"Mungkin, hujannya kayaknya masih dalam masa pertumbuhan."

Nggak ding, saya nggak ngomong gitu. Tapi pengennya ngomong gitu sih. Hehehe. Saya Cuma bilang.

"Kayaknya sih gitu, Pak."
Lalu dia bilang. "Boleh deh."

Saya bawa ke pinggir deh motornya, saa buka joknya. Saya keluarin dua jas hujan, satu buat saya, satu buat penumpang.

"Pak, mau pake bawahannya?"
"Nggak usah," katanya gitu.
Tapi kemudian muncullah pertanyaan satu juta dolar itu.
"Itu bawahannya celana ya?"

Nah ini, ini, ini pertanyaan yang teramat sulit itu. Ini!!!

Gini lho, jas hujan itu kan ada dua model. Model setelan, dan model ponco. Punya saya model setelan. Secara kasat mata, walaupun dalam bentuk terlipat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penumpang tahu kalo itu adalah jas hujan model setelan. Dan jas hujan model setelan itu ya terdiri dari baju dan celana dong? Terus kenapa dia masih Tanya "Bawahannya celana ya?"
Saya harus jawab apa? Ini sulit sekali buat saya! Ini adalah pertanyaan yang selevel dengan pertanyaan. Apakah ibukota dari Indonesia? Siapakah presiden Indonesia? Ini jawabannya mudah, gampang, tapi nggak bisa dibercandain! Kalo saya jawab ibukota Indonesia ada enam. Jakarta purat-utara-selatan-timur-barat-fair. Presiden Indonesia adalah orang yang dipilih oleh masyarakat di pemilu. Bisa saya jawab begitu, tapi nanti saya dituduh makar, kudeta, berdosa!

Sama, ini juga begitu. Jawabannya mudah, tapi kesel mau jawabnya.
Bisa saya jawab dengan jawaban nyeleneh, jayus bahkan garing. Kalo perlu.saya jawab pake pantun. Tapi bayangkan apa yang akan terjadi kepada saya? Baying-bayang rating bintang satu dan komen drivernya tidak menyenangkan mulai menakutkan saya!

Jadi ya saya jawab dengan nyengir doang sambil manggut. Saya bisa apa? Saya tak berdaya. Saya ah sudahlah, sulit menjelaskan apa yang saya rasakan sepanjang perjalanan dari titik asal ke titik tujuan.

"Bawahannya celana ya?"
"Bukan, Pak. MUKENA!!"

Kesel.