Sunday, July 12, 2015

Preman Pensiun dari kacamata saya yang bermata tapi tidak berkaca

Humanisasi? Apa itu humanisasi? Emang ada kata itu di kamus? Entahlah, cuma buat saya, kata yang berakhir dengan -isasi terdengar keren. Modernisasi, Mobilisasi, Kriminalisasi, sepiring nasi, dan lain sebagainya. Hehehe.

Preman Pensiun ini... KOCAK, serius! KOCAK!
Gimana nggak kocak? Ada orang gede, gondrong, sangar, yang kalo ditanya selalu menjawab dengan capslock "APA!" yang orangnya kayak gini

Tiba-tiba menjadi gini waktu ditelepon sama Kang Mus, atau sama istrinya!


 Atau kekocakkan duet maut antara Murat dan Pipit? Kekonyolan kelompok copet Ubed, Junaedi, Saep, Dewi? Gobang, Boim, Cecep? Dan karakter-karakter lainnya.

Daya tarik utama sinetron ini memang dari sisi komedinya yang cukup menonjol. Tapi jangan dilupakan ada sisi drama juga yang ditampilkan, sisi lain dari keseharian orang-orang yang berprofesi sebagai preman. Kerennya sih sisi manusiawi para preman.

Bahwa seperti KAng Bahar, yang begitu berkharisma dan disegani ternyata begitu menyayangi keluarganya. Tentang seorang Muslihat yang berjuang meningkatkan taraf hidup keluarganya, tentang Komar yang takut istri, dan sebagainya.

Saya akan langsung membahas mengenai ketertarikan utama saya terhadap sinetron ini. Tapi hanya beberapa poin saja yang menjadi ketertarikan saya.
Keunggulan sinetron ini ada pada komedi yang kuat, cerita yang padat, karakter dan dialog yang matang. Lalu apa yang dibahas?
Oh iya, saya bicaranya tentang keseluruhan ya, Preman Pensiun 1 dan preman pensiun 2, oke, lanjut.

Pertama.
Adalah tentang humanisasi yang tadi disebut di atas. Memanusiakan preman-preman ini.
Gini, kita tahu bahwa yang namanya preman adalah raja atau penguasa kecil sebuah daerah yang meraih kekuasaan dengan cara kekerasan. Tapi di sinetron ini, premanisme dibalut dengan apik dengan kemasan sebuah "bisnis" yang dirintis oleh Kang Bahar.
Uniknya, ketika seluruh lapisan masyarakat memandang premanisme ini sebagai sesuatu yang buruk, di sinetron ini premanisme adalah sesuatu yang "wajar" karena premanisme di sini adalah tidak lain dari sebuah badan usaha yang memilik sistem dan memilki kantor. Jadi segala macam alasan yang menurut masyarakat adalah alasan yang mengada-ada, dalam sinetron ini menjadi alasan yang memang wajar. Menjadi sebuah sebab yang memang muncul sebagai sebab-akibat dalam dunia bisnis. Ada pasar, ada produsen. Ada yang membutuhkan jasa, ada yang menyediakan jasa. Suply and demand.
Wajar, sangat wajar. Walaupun KAng Bahar sendiri sudah mengakui bahwa bisnis yang dibangun adalah bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik.

Kedua.
Dialog yang matang.
Ada satu dialog yang menjadi kunci poin pertama diatas. Saya nggak hafal dialognya, tapi kira-kira begini. Dialog ini terjadi antara Kang Mus dan Gobang di atas jembatan terminal.
"Tugas kita adalah membantu para sopir mendapatkan penumpang, membantu penumpang mendapat angkutan. Kalau ada orang tua atau perempuan yang membawa barang yang banyak, maka kita harus bantu. Setelah itu baru kita berhak mendapat imbalan."
atau dialog ntara Cecep dan Kang Mus ketika Cecep menagih iuran dan meminta tambahan untuk buka puasa. Lalu KAng Mus bilang.
"Kita hanya boleh menerima apa yang menjadi hak kita, jangan meminta lebih!"

Dialog Murat dan Dikdik.
"Para pedagang minta keringanan, katanya minta nagih iurannya sore karena dagangannya baru ramai sore hari."

Dialog Saep dan Putri beserta dua orang mantan anak buah Saep, mantan anak buah copetnya mennggalkan Saep lalu bertemu di suatu kesempatan.
Saya lupa, dialognya panjang. tapi ada yang catchy "Putri, soal saya mau sama kamu tapi kamu nggak mau sama saya itu hanya keinginan personal, tapi tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan kamu meninggalkan saya..."
Di sini dia bicara sangat logis dan jelas beda antara hubungan profesional dan hubungan personal. Hahahaha

Dan banyak lagi dialog-dialog lain yang matang.

Segala macam kelebihan akan dan sudah diutarakan oleh ribuan penggemar lainnya. Saya mau menyampaikan yang menuru saya justru kurang dalam sinetron ini.

Pertama.
Latar belakang.
Kita tahu bahwa seorang Bahar adalah preman yang disegani, tapi kita tahunya hanya dari cerita Kang Mus, hanya itu. tapi belum pernah memperlihatkan kedigdayaannnya sebagai orang yang disegani. Kalau dia terlihat begitu perkasa itu hanya di antara orang-orang yang dia kenal atau yang pernah punya urusan sama dia.
Tapi belum pernah saya lihat dia berurusan dengan orang yang tidak dia kenal dan orang asing tersebut terpengaruh oleh, entah gaya bicaranya, entah gesturenya, atau caranya memberikan solusi terhadap sebuah masalah.
Dan hal ini berlaku juga dengan Kang Mus. Dia hanya terlihat perkasa ketika berhadapan dengan Jamal.

Kedua.
Dialog.
Walaupun ada dialog yang matang dan gurih, tapi ada juga dialog yang menurut saya terlalu panjang.
Misalkan, misalkan aja ini mah ya.
"Kamu kenapa begitu?"
"BEgitu gimana?"
"Ya begitu itu."
"Jadi bingung."
"Bingung kenapa?"
"Begitu kenapa saya begitu?"
"Begitu gimana?"
Dan seterusnya...

Buat saya pribadi, dialog ini agak sia-sia, memang tidak semua dialog harus serius mengingat ini cerita komedi. tapi kalo kepanjangan macam gitu, maka momen komedinya jadi hilang, alih-alih lucu malah jadi dialog yang sia-sia.

Ketiga.
Flow, apa ya bahasa Indonesianya? Pokoknya begitulah ya.
Maksudnya begini.
Cerita ini kan cerita santai. Tapi ada juga bagian-bagian yang gawat. Ketika Jamal bikin masalah, ketika Bahar meninggal, dan sebagainya. Itu adalah bagian cerita yang gawatnya, bagian yang seriusnya. Nah, bagian yang santainya misalkan interaksi antara para preman dengan anggota keluarganya, atau cerita seputar kelompok copet.
Bagian ini menurut saya kurang terbagi rata sehingga mengakibatkan cerita ini agak "ngambang"

Keempat.
Stereotype.
Preman Pensiun ini adalah sebuah sinetron. Dan seperti sinetron lainnya, semua karakter terjebak ke dalam sebuah sumur yang dangkal.
Maksudnya begini.
Karakter yang ada di dalamnya, ya begitu-begitu aja, tidak manusiawi.
Kita ambil contoh Komar.
Dia galak, sangar, tapi takut istri, terus saja begitu. Tapi tidak dieksplorasi lagi kenapa dia bisa menjadi pemimpin di pasar, padahal dibanding Iwan, jelas Iwan lebih unggul, baik secara ukuran badan maupun kemampuan berkelahi. JAdi harusnya Komar memunculkan sesuatu yang lain yang membuat dia pantas memimpin pasar.
Kang Mus juga begitu, selalu tampak sempurna, tidak pernah keclongan. Mungkin kecoongan akan menurunkan wibawa Kang Mus, tapi bisa diakali dengan langkah antisipasi untuk menebus kecolongannya dia itu.

Tapi lepas dari segala macam kekurangan itu, Preman Pensiun tetap memikat dan mencuri perhatian sampai menumbuhkan harapan akan munculnya sinetron-sinetron yang baik seperti sinetron Preman pensiun ini.

Aktor-aktor yang muncul di sinetron ini pun cukup piawai dalam membawakan perannya, Baik itu Epi Kusnandar sampai aktor-aktris lain yang mungkin belum cukup terdengar. Kenapa? Karena walaupun kita ngakak guling-guling melihat atau mendengar dialog dari Kang Pipit. Percayalah, dia tidak selucu itu kalau bertemu langsung!

Dan yang menarik dari karakter di sini, mereka sebenarnya kaya semua! Nggak ada yang bbman atau smsan, mereka langsung telepon kalo ada apa-apa.

Ya ini mah hanya sekedar pandangan saja, cuma pendapat aja. Semoga bisa diterima, da saya mah apa atuh, cuma seorang pemuda tampan yang sok tahu.

Update, mungkin akan ada.
Sanggahan, diskusi, tambahan, dan bantahan, sangat bisa diterima.

Monday, June 22, 2015

Bermalas-malasan dengan elegan.

Blogpost ini dibuat di hari ke enam puasa. Di hari pertama puasa ada tiga kelompok anak-anak/pemuda yang keliling bangunin sahur sambil tatalu dan lempar petasan. Ganggu banget, bukan masalah petasannya, petasan meledk sih biasa, tapi yang ini beda. Entah karena buru-buru atau kenapa, anak-anak itu lupa bawa korek, jadi petasannya dilempar tapi nggak dibakar, tapi bunyi, bunyinya bukan dari petasan tapi dari mulut anak-anak itu. Tahu gitu mah, saya nyumbang korek satu buat mereka, soalnya bunyi petasan dari muut anak-anak itu fals.

Baik dalam kegiatan menulis atau pun kegiatan yang lain, malas itu adalah musuh terbesar kita. Gara-gara malas, semuanya bisa kacau. Tulisan nggak beres-beres, kerjaan terbengkalai, akhirnya? Ya kita sendiri yang akan mengalami kerugian, kasarnya sih, karena malas maka keuangan akan terganggu, hahaha.

Bisakah rasa malas ini diatasi? Secra teori sih bisa, tapi nggak tahu juga, soalnya teori in masih dalam percobaan untuk aplikasinya, kenapa bisa begitu? Karena saya nemu teorinya juga barusan.

Apakah teori ini bisa dipertanggungjawabkan? Belum tentu, karena teori ini tercetus dari pernyataan seorang kawan, seorang kawan. Ingat, satu orang kawan! Jadi margin error nya sangat besar, panjang, lebar, dan luas.

Malas belum ada obatnya, tapi bisa dibalut dengan kemasan yang menarik, sehingga walaupun terlihat maslas, tapi nggak keliatan males banget-banget. Hahaha.

Sebelum kepada cara bermalas-malsan secara elegan, sebelumnya saya mau menjabarkan penyebab dari rasa malas. Si kawan yang tadi bilang begini, kira-kira begini.

kawan 1: Saya mau nulis tapi males.
kawan 2: nulis apa?
kawan 1: saya baru nulis sinopsis sama outline.
kawan 2: wah kereeen.

Segitu aja dulu.

Berdasarkan analisa saya, maka penyebab malas ada tiga.
1. sifat/karakter/pembawaan
2. lelah.

Untuk penyebab pertama, no komeng, namanya juga sifat.
untuk penyebab yang kedua, ini yang mau dibahas.
Malas ini ada dua:
1. lelah faktor X
2. lelah faktor T

Lelah faktor X adalah kelelahan yang disebabkan oleh faktor eksternal. Sekolah, kerja, terus... sekolah, kerja!
Lelah faktor T adalah lelah faktor teknis.

Di dalam seminar MLM sering dikatakan bahwa kita dibatasi oleh pikiran kita sendiri, artinya segala sesuatu yang terjadi, yang kita alami, dan cara menghadapinya adalah buah dari pikiran kita, atau dalam bahasa kerennya adalah mindset. Semangat! Luar biasa! Yes! Yes! Yes!

Eh, maaf.

Bisa karena biasa, maka mari kita biasakan diri untuk tidak malas, caranya dengan mengubah mindset kita.
Kembali ke lelah faktor teknis.
ada beberapa tahapan dalam menulis cerita. Anggap saja standarnya begini,
1. mikirin ide.
2. mikirin sinopsis.
3. mikirin outline.
4. mikirin bab per bab
5. mikirin editing.

Nah, si kawan ini dia sudah sampai tahap 3. Menurut saya, kemalasan yang dia alami adalah yang wajar karena dia kelelahan untuk mikirin tahap 1-3, maka otak dia harus kuling don dulu sebelum menuju ke tahap selanjutnya. Perlu istirahat dulu, perlu malas dulu.

Dalam tahap "malas" ini kita bisa memainkan mindset kita, jangan bilang pada diri sendiri bahwa saya malas mengerjakannya, tapi tanamkan pada diri sendiri bahwa saya tidak sedang bermalas-malasan, tapi sedang mengendapkan ide, sinopsis, dan outline yang didapat. sehingga proses selanjutnya bisa dijalani dengan mudah karena sudah matang terlebih dahulu saat tadi kita bermalas-malasan.

Tahap menanamkan mindset inilah yang membuat kita menjadi terbiasa, dan bisa mengenyahkan rasa malas. Dan pada tahap inilah yang disebut bermalas-malasan dengan elegan.

Tapi tetap harus ada pertanggungjawaban. Mengendap sih mengendap, tapi jangan kelamaan juga keles. Eh, tapi ya nggak bisa maksa juga sih, tergantung orangnya, seperti yang pernah saya tulis di post sebelumnya. Tipe penulis mana kita? Tipe santai atau bukan?

Tapi gini, apakah yang dijabarkan di atas bisa mengentaskan rasa malas? Oh, tentu.. tidak! Karena malas adalah salah satu sifat dasar manusia, cuma kadarnya doang yang beda. Terus kalo gitu, kenapa pake ngajarin bermalas-malasan dengan elegan? Karena saya nggak bisa ngajarin gajah terbang, baru bisa sampe gajah booking tiket pesawat.

Bermalas-malasan secara elegan adalah upaya untuk menipu pikiran kita agar tidak terlena dengan kemalasan, dan lambat laun akan mengganti rasa malas dengan sebuah upaya persembahan karya kita yang terbaik.
*uhuy!

Pertanyaan besarnya adalah, apakah trik tersebut berhasil?
Ya belum tentu lah! Males mah males aja! Kalo berhasil mah udah berapa puluh atau berapa ratus buku yang saya buat? Hahahaha

Malas itu tidak baik, bermalas-malasan itu baik, tapi kalo sekali-kali, sebagai reward dari usaha dan kerja keras kita. Kalo keterusan mah, apa bagusnya?

Ini teori mentah. Tambahan, bantahan, sanggahan, sangat diterima
Jangan terlalu serius, da ini mah bukan rapat kabinet, sekedar canda biasa, tapi memang bercandanya nggak lucu sih. Huahahahaha!!!



Monday, June 15, 2015

Mood Buster

Mood itu apa sih?

Secara sederhana "mood" adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti "bulan", itu mah "moon" ya, bukan mood? Nah, inilah akibat dari membaca kamus sambil bungee jumping.

Semua orang pasti tahu lah ya apa itu mood. Mood itu kan suasana hati sebagai respon yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Kira-kira gitu deh, bedanya sama emosi, kalo emosi itu meledak, dan hanya sekejap, kalo mood bisa lebih lama.

Dalam aktifitas kita sehari-hari, seringkali mood mengambil alih etos kerja yang seharusnya dimiliki. Dan akibatnya? Bisa dibilang seluruh aktifiitas kita jadi berantakan gara-gara mood yang tidak baik. Bahkan tak jarang pula orang-orang di sekitar kita akan terkena imbasnya juga,

Ada dua hal di sekitar kita yang menunjang kepada mood kita.
Pertama "Mood Booster" adalah kondisi, benda, suasana, yang bisa meningkatkan mood kita, bisa mendongkrak suasana hati kita dari tidak baik menjadi baik.
Kedua "Mood Buster" ialah kebalikannya. Kondisi, benda, suasana yang justru bisa menjatuhkan atau merusak susasana hati kita. Dari yang awalnya senang menjadi sedih, dari yang awalnya aktif bergerak menjadi mager.

Yang akan dibicarakan adalah yang kedua, Mood Buster.

 Kita ambil contoh yang sederhana. Misalkan... apa ya, yang sederhana? Oh, rumah makan! Hahaha. Contohnya kok rumah makan. Beli rendang kali ah!

Gini. Misalkan kita mau pergi ke sebuah acara yang di sana ada gebetan kita. Terus ceritanya kita mau dijemput, tapi temen yang mau jemput kita telat, telatnya nggak kira-kira, dua hari! Dan dia datang dengan tanpa dosa. Karena kita gnarep ketemu gebetan, yang mana udah pulang karena kita datangnya telat. Maka mood kita rusak, hancur, sehingga dalam acara yang seharusnya seru itu, kita malah jadi bengong, dan males. Imbasnya, yang lain juga ikutan males.

Mari kita kerucutkan ke dalam bidang penulisan.
Menulis, sebagaimana bentuk kesenian yang lain, konon mengedepankan rasa dalam membuat karya. Maka dari itu beberapa penulis membentuk suasana yang nyaman di sekitar mereka untuk bisa membantu dalam proses pembuatan sebuah karya. Karena percaya atau tidak, apa yang kita rasakan akan tercurah dalam karya yang kita hasilkan.
*tsaah!

Tapi beneran! Beberapa orang akan menyetel lagu cinta, untuk bisa membantu membangun suasana yang romantis, lalu menyetel lagu sedih untuk membangun suasana patah hati, dan menyetel lagu metal untuk membangun suasana yang penuh dengan amarah.
Semua itu dilakukan untuk menunjang hasil karya yang nanti akan dilempar ke publik, asal jangan baper aja, bawa perasaan!

Tapi hidup nggak selalu mulus, selalu ada kejadian yang tidak mengenakkan.
Misalkan begini.
Kita dapet ide, sebuah visualisasi adegan yang sangat romantis, sebuah kalimat yang mengena, sebuah jleb moment! Dengan semangat kita yang sdang berkegiatan di luar ingin buru-buru pulang untuk bisa segera menuliskan apa yang kita dapatkan tadi.
Tapi ternyata, eh ternyata!
Begitu sampai rumah, listrik mati, PLN lagi ngambek kayak cewek lagi PMS. Sementara komputer kita hanya bisa menyala kalo dicolokin. Tapi kita masih berpikiran positif, mungkin nggak akan lama.Tapi ternyata lama, sampai empat jam! Selagi kita nunggu, kita melakukan kegiatan lain, menyapu, mandi, menuliskan ide di atas kertas, bahkan kita merobohkan rumah sendiri dan membangunnya kembali! Tapi listrik belum menyala. Karena kita capek nunggu, akhirnya semua ide bagus, semua semangat lenyap, dan mood kita hilang, rusak.

Dan pada akhirnya ketika listrik menyala, kitanya udah males, idenya udah menguap, visualisasi yang indah itu menguap. Apa yang harus kita lakukan? Apakah ngorek-ngorek engsel kamar? Curhat kepada mas-mas kasir alfamart? Atau pergi ke rumah temen kita lalu numpang ke kamar mandi dan menggalau di bawah shower? Mending kalo punya shower, kalo ternyata hanya punya sumur? Mau gelantungan di tali timba? Ide bagus, eh, ya nggak mungkinlah!

Menurut saya, ada dua hal yang bisa kita lakukan, bergantung pada kita menganggap diri kita sebagai APA.

Pertama.
kita adalah penulis yang santai, yang menulis hanya untuk media curhat, yang menulis hanya untuk diri sendiri tanpa ada niat untuk dibagikan kepada orang lain.
Kalo kita adalah penulis yang semacam ini, maka langkah yang bisa kita ambil adalah, tinggalin aja! Santai! Nanti lagi aja kita menulis kalo emang udah mood lagi, toh nulisnya bukan buat siapa-siapa. Jadi mau nulis paragraf pertama hari ini, lalu paragraf kedua nanti ditulis tiga tahun lagi juga sah!. Santai aja.

Kedua.
Kita adalah penulis profesional yang berkutat dengan deadlline, penulis yang dibayar, penulis yang memang ingin membuat karya lalu karyanya disebar luaskan dan dinikmati oleh khayalak ramai.
Kalo kita adalah penulis macam ini, maka ada satu yang harus dilakukan, yaitu, lawan!
Kenapa? Karena kita punya tanggung jawab, bukan hanya kepada diri kita, tapi juga kepada orang lain. Kepada siapa? Kepada orang yang menunggu hasil sementara orang itu pun punya kegiatan lain, kepada orang yang sudah membayar kita, dan kepada pembaca yang menunggu karya kita yang sudah kita "janjikan" akan segera bisa dinikmati.

Tapiii...
Bukan berarti ngotot juga, yang namanya perasaan kadang suka susah dipaksa. Maksudya bukan berarti karena ada tuntutan anggung jawab lalu kita maksain melotot di depan monitor, nggak juga. Kalo sekiranya mau ditinggal, ya tinggalin aja. Bebas! Tapi kalo bisa sih jangan lama-lama ninggalinnya, karena apa? Karena bisa merusak pikiran, perasaan, dan kepercayaan orang lain yang sudah dicurahkan kepada kita. Dan kalo kita tidak bisa menuntaskan tanggung jawab kita karena kita terlalu lama bawa perasaan, maka kepercayaan itu akan hilang. Paham kan apa yang saya maksud dengan hilang itu?

Akan ada banyak alasan, argumen, pro-kontra, pendapat mengenai mood ini. Yang saya paparkan di atas hanya sebuah pendapat dari beberapa obrolan yang sempat dilakukan atau di dengar. Segala macam bantahan, bila ada, boleh disampaikan kalo mau. Supaya tidak terjadi kesalahan persepsi dan supaya saya bisa belajar. Walaupun saya ini ganteng, tapi ilmunya masih dangkal, dan jumlah kesalahan yang dilakukan sudah melebihi banyaknya pasir di pantai.

Itu saja dulu lah, semoga kita bisa bertemu lagi di kesempatan lain dan bahasan lain.
Terima kasih.

*tutup pintu, lalu kejepit, tapi sok asik seolah nggak kenapa-napa, pintu ditutup baru guling-guling megangin jempol sambil jerit-jerit kesakitan, padahal yang kejepit jempol orang lain.

Sunday, May 31, 2015

Layang-layang melayang-layang

Indonesia yang indah ini selain memilik lebih dari 13.000 pulau juga memiliki 1000 musim. Musim hujan, musim kemarau, musim duren, musim rambutan, musim demo musim razia preman, musim razia begal, musim perbaikan jalan, musim ikan lohan, musim, ikan koi, musim gelomang cinta, musim batu akik, dan tentunya musim layangan.

Kenapa ada musim layangan setelah musim batu akik? Kan judulnya soal layang-layang. Masa judulnya layang-layang tapi yang dibahas luas semesta yang tak seluas cintaku padamu?
*eaaa!

Bulan Mei dan Juni ini, kemungkinan sampai September atau Oktober, memiliki suasana yang sama persis seperti beberapa tahun yang lalu.

Seperti yang kita ketahui, bahwa dua atau tiga tahun ke belakang, cuaca di indonesia, bahkan dunia, nggak jelas. Kata para ahl si ada anomali cuaca. Pergeseran musim. Seharusnya antara bulan Maret sampai April itu adalah musim pancaroba, pertanda musim hujan berakhir. Tapi ternyata lewat April pun masih hujan.

Nah, Bulan Mei kemarin cuaca relatif cerah, kalaupun turun hujan hanya gerimis, nyiram doang biar agak adem. Dan efeknya adalah hanya awan, burung atau pesawat yang menghiasi langit, tapi juga layangan!
Menurut prediksi saya untuk beberapa bulan ke depan, Popularitas layangan akan menempati puncak klasemen, mengungguli kisruh sepakbola, korupsi, dan batu bacan.
Mungkin saking populernya, maka nanti akan ada tayangan investigasi yang menyerukan hati-hai terhadap layangan palsu, layangan sintetis, layangan gelonggongan, atau layangan dari bulu mata celeng!

Suasana ini sangat menyenangkan, seperti beberapa tahun yang lalu sebelum anomali cuaca ini terjadi. Anak-anak berkumpul di lapangan sambil berdiri memegang benang layangan, sesekali menarik benang atau mengulur benang. Sementara anak-anak ceweknya di pinggir-pinggir pada nonton. Saling ejek karena layangannya kurang tinggi. Untungnya di sekitar rumah saya masih ada tanah lapang, jadi pemandangan seperti itu masih bisa dinikmati. And it's priceless!!

Tidak hanya di tanah lapang, di loteng bahkan genteng masing-masing rumah mereka pun dijadikan ajang untuk mengadu skill menerbangkan layangan atau menjatuhkan layangan orang lain. Dan mereka tetap berkomunikasi dengan teman-temannya dengan cara berteriak.

Untungnya, baik itu yang di lapangan atau di loteng masing-masing, memainkan layangan dalam bentuk asli! Dalam bentuk belah ketupat, terbuat dari kertas dan bambu. Mereka mendongak ke langit, berdiri, jongkok, lari, dalam bentuk nyata! Bukan bermain layangan dalam bentuk aplikasi yang bisa dunduh melalui Play Store,

Kebayang mereka kumpul di lapangan sambil jongkok, nunduk ngeliatin layar tablet atau smartphone masing-masing. Nanti ada yang berubah.

Misalkan dulu ngomongnya gini... "Yah, nggak ada angin, tungguin bentar deh agak sore!"
kalo sekarang jadi gini... "Yah, nggak ada colokan, ambil power bank dulu deh!"

Atau mungkin gini.
kalo dulu ngomongnya... "Ada yang kalah! Kejaaar!!!"
kalo sekarang... "Ada yang lowbet! Rebuuut!!!"

Aneh ya?

Cuma, kalo saya pribadi sih lebih suka melihat pemandangan itu dari jauh. Saya tidak mau terlibat di dalam keramaian itu. Karena, seseru apapun melihat anak-anak dan layangannya, ada beberapa hal yang saya pribadi tidak terlalu suka tentang musim layangan ini.

Pertama.
Layangan tidak hanya diterbangkan untuk menghiasi angkasa, tapi juga untuk diadu sebagai bukti kepiawaian si empu layangan dalam menerbangkan layangannya. Nah akibatnya akan ada layangan yang kalah dan nyangkut di mana saja. Di kabel listrik misalkan, atau di antena televisi punya orang lain. Dan namanya anak-anak mereka nggak tahu layangannya nyangkut di mana. Pokoknya kalo nyangkut mereka maen tarik aja. Gimana kalo kabel listriknya mengalami korsleting? Kan bisa berbahaya, belum lagi soal estetika. Kabel listrik yang semrawut itu makin terlihat berantakan dengan bangkai layangan bergelimpangan.
Belum lagi kalo nyangkut di antena. Bikin kezel! Gambarnya kan jadi burem lagi, banyak semutnya lagi. Bayangkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk men-seting arah antena, derajat demi derajata, senti demi senti perputaran dilakukan dengan sangat terperinci agar gambar semua stasiun televisi bisa diterima dengan jelas... tiba-tiba buyar karena ada layangan nyangkut di antena. Kzl!!

Kedua.
Anak-anaknya.
Mereka memang seru untuk dilihat, dan pemandangan keceriaan anak-anak memang sangat berharga. Tapi tidak bisa dipungkiri mereka juga menyebalkan dan bikin kezel!!
Gimana nggak bikin kezel? Mereka itu kalo ngejar layangan sembarangan! Masuk ke halaman orang nggak pake permisi, manjat pager, apalagi kalo di jalan, maen selonong aja nyebrang nggak liat-liat! Kalo ketabrak, emang mereka mau disalain? Orang tua mereka yang kelas menengah ngehek itu mau disalahin? Nggak mungkin! Pasti yang disalahin yang nabrak! Yang nabrak nyalahin siapa? Nyalahin presiden! Karena yang nabrak termasuk golongan kelas menengah ngehek juga!
Belum lagi itu anak-anak kalo ngejar pake teriak-teriak, rasanya pengen banget gue rebus mereka!!

Ketiga.
Save the best for last, yang terbaik utnuk bagian terakhir, itulah kenapa daging ayam atau gepuk di makanan kendurian selalu dihabiskan terakhir. Begitupun soal layangan ini.
Dari semua sebab saya tidak terlalu menyukai musim layangan, maka sebab ketiga ini adalah sebab yang paling mendasar, paling prinsipil, paling fundamental.
Sebab saya tidak terlalu suka musim layangan adalah...

... karena saya nggak bisa main layangan...

Untung anak saya cewek, kalo anak saya cowok... nggak kebayang, mungkin temen-temennya lagi asik maen layangan sementara dia asik di pojok lapangan ngunyah jahe.

Hiks...

Thursday, May 28, 2015

Semesta dalam cerita (asik, dari judulnya seolah-olah dalem isinya)

Catatan : Saya ngak hafal banyak, Jadi nama yang akan disebutkan hanya sedikit sekali.

Ehem.
Saya nggak hafal semua nama superhero atau pembuatnya. Di dalam dunia superhero terkenal ada istilah "semesta" sebagai pengganti bumi atau tempat tinggal mereka. Misalkan Marvel Universe dan DC Universe. Marvel dan DC adalah pembuat karakter superhero yang bersaing ketat dalam dunia fiksi. Saya nggak hafal satu-persatu. Tapi secara umum, Marvel adalah The Avengers, dan DC Comics adalah Justice League.

Dan ada lagi universe atau semesta yang lain. Katakanlah, The Incredibles universe, dan Sky High Universe.

Apa yang menarik? Ternyata mereka semua memiliki karakter yang kurang lebih sama antara satu dengan yang lain.
Misalkan.

Di DC Comics ada The Flash, di Marvel ada Quicksilver, kalo nggak salah, lalu di Sky High ada karakter yang bernama Speed, dan di The Incredibles ada Dash.
Mereka semua memiliki kekuatan yang sama, kecepatan.

Contoh lain.
di Marvel ada X-Men, ada tokoh Bobby yang memiliki kekuatan membekukan sesuatu, singkatnya manusia es. Di The Incredibles  ada yang namanya Frozone, kekuatannya sama.

di Dc Comics ada Bruce Wayne yang tidak memiliki kekuatan super, di Marvel ada Tony Stark yang juga tidak memiliki kekuatan super. Kekuatan mereka ada di kekayaan, dan kejeniusan mereka. Bahkan sifat mereka pun sama, sama-sama dermawan dan sama-sama playboy.

Bahkan.
Ada Avatar Aang yang menguasai empat elemen. Ini pun memiliki tokoh kembaran, yaitu Boboi Boy. Beda memang, tapi secara kekuatan sama aja.

Terus masalahnya di mana?
Begini, beberapa waktu lalu ada film berjudul Garuda. dan tanggapan terhadap film itu bisa dibilang tidak begitu bagus. Ada satu komentar yang bilang bahwa Garuda itu sebenarnya Batman versi Indonesia.

Saya pribadi bilangnya sih, terus kenapa? Kalo memang kita bikin Batman versi Indonesia terus kenapa? Nggak boleh? Salah? Enggak lah!

Cuma memang, track record orang-orang yang ngakunya pelaku seni kreatif di negara ini memang meragukan. Banyak sekali cerita-cerita yang secara konsep bahkan secara keseluruhan memang mencontek dari cerita luar negeri, yang parahnya, eksekusinya ternyata lebih jelek dibanding cerita luar negeri.

Seandainya orang kita melakukan apa yang orang-orang di balik para superhero lakukan, maka cibiran itu niscaya tidak akan ada.

Buktinya, The Flash tidak pernah menuntut Quicksilver, Speed, dan Dash karena mengikuti kekuatan dia. Batman sama Iron Man nggak pernah mengadu pengacara untuk memperebutkan hak cipta. Avatar nggak pernah cyber war sama Boboi Boy.

 Artinya, sah aja kalo kita mau bikin Batman versi Indonesia. Yang perlu dicermati adalah. Tokoh-tokoh yang disebutkan hanya memiliki kesamaan dalam hal kekuatan. Sementara Karakter, latar belakang, seting, cerita, dan lain sebagainya SANGAT BERBEDA!

Berarti boleh dong kalo saya bikin karakter superhero dengan nama Safe'i si Tuan Tanah dengan kekuatan mengendalikan tanah. Atau Mat Kuenceng dengan kekuatan lari super cepat.

Panji Pragiwaksono bersama timnya membuat sebuah komik berjudul H2O, ceritanya tentang sebuah robot Hanoman. tentunya tidak secara langsung berkaitan dengan cerita Ramayana, Robinson, atau Matahari *apa sih!
Nah, yang menarik, Hanoman ini mengusung konsep mecha, atau mechanic, atau sederhananya robot lah ya. Dan di Jepang sono mungkn udah ribuan cerita yang menggunakan konsep robot. Dan tidak ada yang menuntut bahwa tidak boleh menggunakan konsep robot karena udah dipake duluan sama Jepang.

Jadi, mungkin saya bisa membuat cerita Gatotkaca dengan gaya Beyblade? Tamiya? Atau membuat Punakawan menjadi pasukan Power Ranger, sah kan?

Menurut saya sah, selama yang sama hanya "kekuatan" istimewanya saja, itu pun yang umum. Karena kalo saya bikin pahlawan super bernama Bacanman dengan kekuatan seperti Green Lantern, yang sama aja nyontek juga.

Sebenarnya banyak sekali potensi yang dimiliki dan bisa dikembangakan. Masalahnya, pelakunya mau nggak eksplorasi? Kedua, medianya ada nggak?
Kalo yang kedua sih kayaknya nggak masalah kali ya, karena banyak media untuk menampilkan hasil karya, di facebook juga bisa.

Yang ketiga, ini yang paling penting. Yaitu, Persatuan Indonesia. Eh, itu mah Pancasila. Tapi sangat penting, karena itulah dasar kenegaraan kita. Hahaha...!

Yang ketiga yang penting adalah. Siapkah publik negara ini menerima sesuatu yang keren yang dibuat oleh anak bangsa sendiri? Atau akan selamanya nyinyir?


Friday, July 25, 2014

Lebaran


Ya, lebaran sebentar lagi, kali ini memang benar-benar sebentar lagi. Nggak kayak iklan layanan chatting yang ada Afgan, Giring sama Andien, baru seminggu puasa udah bilang lebaran sebentar lagi.

Ada sesuatu yang cukup meresahkan, menggelisahkan, apa ya? Atau mungkin saya yang berlebihan.
Gini lho, lebaran itu kan konon katanya adalah hari kemenangan, nah kemenangan itu ada setelah perjuangan. Ini masalahnya, perjuangannya apa? Menahan lapar dan haus? menurut saya tidak perlu lebaran untuk bisa mendapatkan kemenangan dari lapar dan dahaga. Karena setiap hari juga kita buka puasa toh?

Tapi ada lagi, menahan diri dari nafsu, itu yang sulit, terumata nafsu amarah. Katanya, jin dan setan itu dibelenggu ketika blan puasa, tapi menurut saya sih yang dibelengunya cuma jin kelas bawah, kelas lapar dan dahaga. Buktinya, walaupun puasa banyak orang yang marah-marah, apalagi di jalan pas mau buka puasa, pasti ribut sama klakson, ngejar buka di rumah,padahal udah adzan isya. JAdi sebetulnya jin kelas atas itu tidak berhasil dibelenggu karena keburu nyamar jadi manusia.

Yang membuat miris itu sebetulnya begini. Orang puasa teriak-teriak "Hei hargai orang yang berpuasa!" atau "Tutup warungnya, ada orang puasa!"
Hei, puasa atau tidak itu kan hak semua orang, maksudnya, iya memang puasa di bulan ramadhan itu kewajiban, tapi kan yang nggak puasa juga boleh. Misalkan yang sakit, lagi dapet, hamil, atau memang non muslim.

Bisa disebut perjuangan itu kalo ada rintangan, kita itu menhana godaan, bukan menghilangkan godaan. Jadi kalo ada orang makan di depan kita, ya biarin aja, nggak usah dimarahin dengan dalih kita lagi puasa da dia harus menghormati kita. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kita bisa nahan godaan untuk ikut makan? Disitulah kita diuji
Apa artinya perjuangan tanpa rintangan? Kalo gitu mah sama aja kayak kita ujian tapi nggak pake soal. Tingggal nulis nama doang, dimana nilainya?
Semakin sulit ujiannya maka semakin tinggi nilainya, semakin besar godaannya maka semakin besar pula pahalanya. Sederhana kan?

Pertanyaannya, kita mau nggak naik pang atau naik kelas? Menurut saya, orang puasa tapi melarang orang makan di depannya itu sama kayak orang mau dapet gaji tapi nggak mau kerja.

Kita teriak-teriak minta dihargai, tapi kita belum menghargai orang lain. Misalkan, yang gampang aja, kita pake jalan buat shalat ied, ada mobil lewat, kita bilangnya "Dasar brengsek, nggak tahu ini kita lagi mau shalat ied?"
Tapi di kesempatan lain, jalan padat karena dipake parkir gereja, kita bilang "Ah menuhin jalan aja!" dimana penghargaan kita?
Kita sibuk minta penghargaan, tapi pada saat kaum kristiani natalan, kita malah ribut menghalalkan, mengharamkan ucapan natal dan saling mengkafirkan, maksudnya ya udahlah kalo mau ngucapin yaa ucapin aja, kalo nggak mau ya diem aja, selesai kan?
Oke skip, pembahasannya bisa panjang kalo ngomongin itu.

Kita kembal lagi ke masalah lebaran dan kemenangan.
Dengan gejala penghargaan itu, saya jadi bertanya-tanya. yang akan mendapat berkah itu siapa ya? Ynag puasa? Atau malah yang nggak puasa? Mengingat mereka yang tidak puasa ternyata lebih susah payah untuk makan dengan sembunyi-sembunyi, dan menghargai yang puasa.

Ini tentunya tidak mengeneralisir apa-apa, saya tahu tidak semua yang berpuasa seperti itu, pun sebaliknya, tidak semua yang tidak berpuasa seperti itu juga.
Kembali lagi ini adalah sebuah ocehan dari seorang pemuda tampan yang sok tahu,
itu saja


Thursday, July 24, 2014

Mungkin ini mah ya

Seperti judulnya ini mah, mungkin gitu
Menurut saya masa kecil saya itu luar biasa, karena saya pernah maen di sawah, pernah maen petak umpet, dan pernah maen banyak permainan lain yang mungkin anak sekarang jarang maen karena imbas teknologi sehingga mereka lebih senang maen gadget atau game online.

Saya tidak akan membicarakan soal perlindungan hukum, hak dan kewajiban anak, dan segala macam tetek bengek yang bikin kepala pusing. Udah mah saya stres karena batal puasa seminggu gara-gara sakit, ditambah ngomongin yang berat-berat, ah pusing.

Jadi gini, masa kecil saya itu orangtuanya sangat ortodok, konvensional, kuno lah. Tapi menyenangkan lho, karena saya pernah melakukan sesuatu untuk sebuah imbalan. Misalkan puasa dan lebaran. Kalo puasanya penuh dapet apa, kalo nggak penuh dapet apa, dan menjalankannya itu keren, ketika mendapat hadiah itu luar biasa lho rasanya.

Dan banyak orangtua sekarang berpikiran modern, tidak mau memberikan hadiah karena tidak mau mendidik anaknya menjadi penuntut. mereka mau mendidik anaknya buat ikhlas. Bagus, sih, tapi entahlah menurut saya malah nggak asyik.

Misalkan gini, kita ambil contoh, lebaran lah. Orangtua nggak mau ngasih anaknya baju baru karena nggak mau memanjakan, nanti merengek-rengek, nanti ibadahnya karena minta imbalan. Hei mereka itu anak-anak, mereka belum paham arti ikhlas. Ada banyak sisi yang bisa ditelaah.

Kadang orangtua itu meremehkan anak-anak. Kita liat satu persatu.
1. Mereka nggak mau anaknya merengek
nah kalo anaknya nggak mau merengek, ya siapkanlah budgetnya dari jauh hari, disini adalah fungsi orangtua untuk menyediakan kelayakan untuk anaknya. Disini ada motivasi buat orangtua untuk bekerja keras.
2. beli baju baru bukan cuma lebaran
Betul, ada momen lain, tapi ini lebaran! Lebaran! kesannya beda sama hari biasa. Anak punya hak untuk merengek, dan ini momen yang tepat.
3. Nanti anaknya kalo ibadah jadinya motivasinya karena imbalan dong.
Jangan mnafik, emang orangtuanya nggak melakukan apapun tanpa imbalan? Lha emang orangtua ibadah buat apa? Dapat imbalan! Imbalan masuk surga, imbalan pahala, dan sebagainya.
Lagipula kita lupa satu hal, anak akan tumbuh dewasa, dia akan belajar, dari gurunya, guru ngajinya, teman-temannya. Suatu saat nanti mereka akan mendengar bahwa ibadah itu begini, begini, begini. Ketika mereka beribadah karena mengharapkan imbalan dari kita, nanti juga mereka akan paham ibadah itu seharusnya seperti apa.
JAngan remehkan anak-anak!!

Memang cetek, karena saya pun baru jadi orangtua, tapi saya yakini itu, karena saya dan jutaan anak lain di generasi saya hidup dengan cara seperti itu, dan kami baik-baik saja.
Ada sebuah kebahagiaan ketika melihat anak laporan bahwa puasanya penuh, lalu minta hadiah, dan kita berikan, lalu matanya bersinar, lalu mereka dengan "sombong" memamerkan hadiahnya ke teman-temannya.

Mereka itu anak-anak, dan imbalan terhadap sesuatu adalah hak mereka, berikan hak itu!

Pendidikan anak itu dimulai ketika anak kita lahir sampai kita sebagai orangtua mati. Bukan berarti saya melarang atau gimana, tidak! Yang mau mendidik anak dengan cara A silahkan, dengan cara B silahkan, dengan cara apapun silahkan. Tapi bagi saya menjadi orangtua yang konvensional itu sangat menyenangkan.

Keberuntungan ada di generasi saya, karena kami dibesarkan secara konvensonal, tapi dengan pola pikir yang dibentuk secara modern. Jadi seharusnya kalau 1+2=3, maka bisa jadi konvensional+mdern=ideal.

ada banyak sekali unsur pendidikan dan unsur anak yang tidak saya masukkan.Karena ya itu, banyak banget, dan akan ada bantahan, pasti. tapi teori saya mengatakan

Anak belajar hidup dari imbalan
Remaja belajar hidup dari idola
Orangtua balajar hidup dari cobaan

Orangtua tidak boleh "melarang" apapun, tuas orangtua seperti saya adalah untuk monitoring dan pengarahan. landasannya pengalaman hidup, norma masyarakat dan agama tentunya. Kuncinya adalah bagaimana kita mengajarkan sesuatu dengan cara yang persuasif. Kecualiiiii untuk beberapa hal memang harus otoriter tanpa harus ada penjelasan, paham kan maksudnya?

Tapi kembali lagi ini hanya komentar dari saya saja, nggak usah terlalu serius, lagian saya mah apa atuh cuma butiran debu. Saya hanya seorang pemuda tampan yang sok tau, hahaha
terbuka untuk masukan, kalo ada yang masuk