Sunday, February 23, 2025

TENTANG PATRICK, TENTANG SOFIA, TENTANG DUNIA

 

Sofia dan Mama pindah ke Malang setelah Papa mendepak mereka demi perempuan kaya.

Gara-gara itu, Sofia berambisi menjadi pengusaha untuk membuktikan papanya salah besar. sayangnya impiannya ditentang Mama yang menganggap dunia bisnis bisa mengubah seseorang menjadi jahat.

Patrick harus membuang impian masa mudanya demi memimpin perusahaan property papanya yang sedang sakit keras. Pengorbanannya tak lantas membuat dia mendapat pengakuan Papa yang selalu memandangnya sebelah mata.

 


Keduanya dipertemukan dalam satu kantor. Masalah jadi kian rumit saat muncul perasaan lain di antara mereka. Padahal perbedaan kasta menjadi dinding penghalang yang terlalu kokoh untuk ditembus. Apakah Sofia dan Patrick bisa menghadapi urusan mereka tentang cinta, mimpi, pekerjaan, dan keluarga? Bisakah Sofia meraih impiannya menjadi pengusaha sukses tanpa berubah menjadi seperti papanya?

Yang di atas itu adalah blurb, atau sinopsis singkat dari sebuah novel berjudul Unfinished Business, sebuah novel karya Edwin Lucas. Tahu kan blurb? Itu lho sinopsis pendek yang suka ada di bagian belakang buku. Nah udah tahu kan?

Sejujurnya waktu membaca blurb itu, saya nggak punya ekspektasi lebih sih, malah kayak biasa aja. tapi begitu say abaca, saya tersentak! Karena ditepok Satpam dari belakang, soalnya belum bayar. Jadi saya bayar dulu baru saya baca.

Tapi beneran waktu saya baca, langsung dibuat kaget dengan konflik yang disajikan dari awal. Nggak ada lagi tuh pagi datang, matahari terbit nggak ada lagi. Karena matahari banyak yang tutup. Tapi langsung disajikan konflik yang cukup berat. Sebuah konflik keluarga di dalam keluarga Sofia. Mama Sofia dan Sofia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, kemudian papa Sofia meninggalkan keluarganya untuk menikahi seorang perempuan kaya.

Sebuah trauma yang mendalam dan meninggalkan luka yang kayaknya nggak mungkin bisa sembuh karena luka itu ditorehkan oleh orang yang seharusnya jadi pelindung, panutan, malah menjadi monster bengis berdarah dingin yang tidak peduli bahwa yang dia lukai adalah keluarga dan darah dagingnya. Papanya secara terang-terangan merendahkan mamanya dan menekankan bahwa orang miskin itu cenderung lemah dan mudah ditindas. Sehingga Sofia bertekad untuk menjadi pengusaha kaya seperti keinginan papanya. Tapi mamanya Sofia melarangnya karena tidak ingin Sofia berubah menjadi bengis seperti papanya.

Sofia dan mamanya kemudian pindah ke Malang untuk melupakan masa lalunya. Tapi bukannya sembuh, Sofia malah mengalami kejadian-kejadian yang tidak enak yang malah membenarkan ucapan papanya soal orang lemah yang ditindas, sehingga tekad Sofia menjadi lebih kuat lagi untuk menjadi orang sukses.

Sofia ingin jadi sukses dan kaya tapi dia juga tahu mamanya menentang. Maknya Sofia diam-diam mencari jalan untuk bekerja. Dan jalan itu terbuka!

Awalnya dia sempat kecewa karena dengan kondisi dirinya yang masih berstatus siswi SMA nggak ada yang mau nerima kerja, ada yang mau malah kerja kotor, bukan kotor yang literally kotor kayak mandi lumpur ya. Tapi kotor yang busuk, nggak jujur dan sebagainya. dari situ dia bertemu dengan Patrick, seorang anak orang kaya banget! walaupun sama-sama masih SMA, tapi Patrick sudah menjabat sebagai CEO alias bos sebuah perusahaan. Dan bukan sebuah perusahaan biasa, tapi perusahaan besar.

Kayaknya kalo ngeliat ada cowok modelan Patrick, kita bawaannya Cuma satu. Ngiri! Nggak ada nganan, pasti ngiri! Tapi ternyata kehiduoan Patrick tidak seindah itu. sama dengan Sofia, Patrick pun mengalami konflik dengan orangtuanya, dimana dia selalu dituntut untuk mejadi orang yang sempurna, karena kasta keluarganya seolah memang menuntutnya untuk seperti itu.

Tanpa diduga Sofia berhasil bekerja di kantor Patrick dan menjadi sekretaris Patrick. Ternyata Patrick memiliki tugas khusus untuk Sofia, tugasnya apa? Baca aja sendiri ya, terus nanti kasih tahu saya tugasnya apa.

Gimana tuh? Menarik kan? Dan itu ada di awal-awal cerita. Sangat intens! Tadinya saya pikir, ah paling serunya dikit, ya nanti bacanya sambil weekend deh, biar santai. Eh nggak tahunya keterusan. Bahasanya lugas, mengalirnya juga enak. Sehingga tanpa sadar saya pun jadi keterusan bacanya, niatnya buat menghabiskan weekend, eh abis!

Tapi walaupun ceritanya bagus dan enak dibaca. Ada beberapa hal yang mengganjal sih pas bacanya.

Pertama soal karakter.

Sofia dan Patrick sama-sama anak SMA, tapi mereka bekerja di posisi yang penting, bukan pedagang, konten kreator, afiliator, tiktoker. Tapi CEO dan sekretaris. Kita tahu jam kerja di kantor itu seperti apa, gimana ceritanya Sofia yang anak SMA bisa kerja dengan jam suka-suka Patrick?

Patrick yang masih anak SMA kok bisa jadi CEO? Membawahi orang-orang yang jauh lebih tua, bahkan seumuran papanya. Bagaimana cara seorang anak SMA yang belum matang mengambil sebuah keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Mungkin di dunia nyata ada orang-orang yang seberuntung itu, tapi karena di sirkel saya nggak ada, jadi kurang relate sama kondisi itu. dan kalau mengikuti logika cerita, bisa diwajarkan. Toh perusahaannya juga punya bapaknya Patrick, jadi suka-suka dia lah mau dikasih ke siapa. memang nggak di dunia nyata, nggak di dunia fiksi, kalo kita punya uang, kita punya kuasa.

Tapi for some reason, pemilihan tokoh yang masih SMA memang disengaja, karena penulis menyasar anak-anak SMA. Ibaratnya gini deh, penulis membuat cerita ini buat ngasih gambaran ke anak-anak muda tentang gini lho dunia kerja, gini lho etika bisnis, gini lho kelakuan orang-orang kantoran. walaupun nggak 100%, tapi kira-kira gitu deh gambaran dunia nyata. Biar nggak kaget, i appreciate that!  

Kedua soal lokasi.

Disebutkan kalau Sofia dan mamanya pindah ke Malang, tapi nggak berasa Malang-nya. Saya juga belum pernah ke Malang, jadi nggak tahu juga Malang itu kayak apa. Tapi saya tahu Malang itu di daerah Jawa Timur, tapi nggak berasa ke-jawaannya. Dari aksennya, dari bahasanya, nggak terlalu berasa. Malah saya nemu bahasa jaksel dibanding bahasa jatim.

Yang paling mengganjal buat saya sih itu. tapi terlepas dari kejanggalan itu. Unfinished Business tetap menjadi sebuah cerita yang menarik, memikat, dan seru untuk diikuti.

  

JALAN-JALAN TAPI NGGAK SEMBARANGAN JALAN-JALAN

 



Ketika ada seseorang yang berada di luar dunia penulisan kemudian menggarap sebuah karya tulis, dalam hal ini menulis fiksi baik itu cerpen maupun novel, hal itu akan selalu menggelitik rasa penasaran. Kenapa menulis? Itu pertanyaan pertama yang akan selalu timbul. Seperti juga pertanyaan yang ditanyakan kepada seorang pengusaha yang melakukan debut sebagai penulis novel berjudul Unfinished Business.

Hari jumat tanggal 21 Februari 2025 adalah hari keberuntungan bagi beberapa orang terpilih, karena di Summarecon Mall Bandung ada peluncuran sebuah novel berjudul Unfinished Business. Dan saya termasuk ke dalam beberapa orang yang beruntung itu.

Sejujurnya walaupun saya adalah warga asli Bandung, tapi saya baru pertama kali datang ke Summarecon Mall. Karena, jauh dari rumah dan nggak ada kepentingan juga sih, hehehe… dan pertama kali saya kesan, saya cukup takjub karena mall itu ternyata… biasa aja, hahaha… tapi itu mall gede banget sih, tapi ya gitu aja, namanya mall gimana sih? Banyak orang, banyak toko. Yang dikit Cuma duit saya, hiks. Tapi waktu itu Summarecon Mall terasa berbeda, karena ya ada acara yang asyik banget, yaitu peluncuran novel Unfinished Business.

Acaranya ada di lantai dua, di exhibition hall. Dan ketika saya masuk, sudah ada petunjuk arah menuju exhibiton hall, jadi saya tinggal ikutin aja. tapi lama-lama… kok nggak nemu exhibition hall-nya, jangankan exhibiton hall, lantai 2-nya aja saya nggak nemu! Saya ngikutin petunjuk naik ke eskalator ke lantai satu, pas nyampe lantai satu… udah! Nggak ada lantai lagi! Secara logika, lantai 1 itu ada di atas lantai 2. Tapi pas saya mendongak, nggak ada! Di atas lantai 1 ya atap mall! Dimana lantai 2-nya? Eh ternyata ada, setelah saya telusuri akhirnya nemu juga, diujung. Untung nemu, kalo enggak bisa-bisa saya bikin sendiri itu lantai 2!

Dan setelah saya mengatur napas karena ngos-ngosan muterin mall, saya bisa masuk juga ke acaranya. Dan gara-gara ngatur napas dulu itu, jadinya terlambat masuk. Enggak sih, emang telat aja, karena access kesana emang padat juga lalu lintasnya. Tapi bukan alasan sih, telat ya telat aja. maaf ya…



Anyway

Acara launching buku Unfinished Business ini berlangsung cukup hangat. Walaupun tidak terlalu banyak yang datang, tapi obrolan berjalan hangat dan menyenangkan.

Waktu saya masuk, acaranya udah dimulai, berupa talk show antara penulis buku Unfinished Business, Edwin Lucas bersama Eva Sri Rahayu sebagai host. Bagian pertama dibuka dengan mengulik sip aitu Edwin Lucas. Yang ternyata adalah seorang pengusaha yang sukses. Kemudian dilanjutkan dengan membahas tentang buku yang ditulisnya. Di sini juga dibuka sesi tanya-jawab. beberapa orang tampak tidak sabar untuk mengajukan pertanyaan, karena memang penasaran dengan background penulis yang luar biasa ini.

Tentu ada game juga dong. tapi ini gamenya berbeda. Bukan balap karung, permen dalgona, sikat gigi buaya atau massage baby kuda nil. Tapi sebuah game bernama CEO challenge! Di game ini peserta ditantang untuk menjadi seorang CEO. Dimana peserta diberi sebuah “masalah” dan peserta bertindak sebagai seorang CEO yang harus menyelamatkan perusahaannya dan menggandeng investor. Ada tiga masalah yang berbeda yang diberikan kepada peserta untuk dipikirkan solusinya.

Ini adalah sebuah challenge yang sangat menarik. Sayangnya ini adalah challenge yang tidak bisa saya lakukan, karena begitu saya lihat soalnya, tiba-tiba saya blank. Tapi ada peserta yang bisa menjawab challenge itu, dan jawabannya memang masuk akal buat saya, bukan Cuma buat saya, tapi buat Pak Edwin juga cukup mengesankan, artinya memang jawabannya benar, nggak sekedar menerka-nerka.

Edwin Lucas sebagai seorang pengusaha yang kemudian menjadi penulis memang mengundang banyak pertanyaan. Dan memang beliau ini bukan orang sembarangan, beliau melakukan semua proses penulisan dengan riset dan ditulis sendiri, bukan pakai ghost writer. Bayangkan, seorang pengusaha yang super sibuk masih menyempatkan waktu untuk menulis. Sebuah komitmen yang sungguh sangat tidak main-main. Kaum mageran harusnya malu sih sama Pak Edwin Lucas ini. Maka dari itu, para penonton bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sana terlihat antusias untuk bertanya kepada narasumber di acara itu.



Sebagai seorang pengusaha, Pak Edwin Lucas ini punya segudang ilmu tentang dunia bisnis yang ingin dia bagikan. Makanya beliau memutuskan untuk menulis buku, tapi kalau hanya buku bisnis, nggak seru, berpotensi membosankan. Makanya dibuatlah dalam bentuk fiksi. Dan sebagian dari cerita Unfinished Business diambil dari pengalaman pribadi Pak Edwin, supaya lebih relate. Dia berharap novel ini bisa memberikan hiburan sekaligus pengetahuan dan filosofi bisnis. Bayangkan betapa serunya hidup ketika punya passion dan terwujud. Luar biasa nggak sih?

Kembali dari yang disebutkan di awal. Edwin Lucas ini adalah seorang pengusaha, tapi kemudian dia memulai debut menulis buku. Yang menariknya adalah ketika ditanya kenapa menulis buku, dan saya mendengar alasan yang sama dengan beberapa penulis lainnya. Yaitu…

Menuju keabadian.

Manusia akan menghilang, tapi karya akan abadi. Maka dengan adanya karya, maka kehadiran kita akan selalu ada di dunia ini. Kira-kira begitu.  Begitu katanya.

Sebuah premis yang menarik. Karena kalau kita membaca atau mendengarkan pepatah semacam gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Kita sebagai manusia, makhluk yang kompleks ini akan meninggalkan apa? Utang pinjol? Enggak dong?

Sekarang bayangkan. Hidup di dunia aja kita udah ganggu orang. Tetangga, teman, menjauhi kita karena kebagian teror pinjol. Masa di makam kita mau dijauhin mayat lain karena diteror debt collector. “Bilangin ke mayat sebelah lo, bayar hutangnya!” beban nggak sih!